Sinyal-sinyal Calon Pembeli Itu Seperti Apa?

Sinyal-sinyal Calon Pembeli Itu Seperti Apa?

Jualan gimana sih mas? Susah atau gampang sih? Jawabannya cuma satu kok. Gampang. Masalahnya mau jualan seberapa banyak? Nah itu yang nanti jadi gampang berubah sulit. Kok? Namanya juga jualan.

Begini, kalau anda seorang lulusan SMA gak pengen lanjutin kuliah, duit kuliah buat bisnis, boleh kok dan bisa. Begitu juga selepas kuliah, pengen banget buka bisnis tanpa mencicipi kegiatan menjadi jobseeker dan karyawan di perusahaan, juga boleh banget. Perbedaannya nanti untuk masalah susah dan gampang bisnis itu ada pada jumlahnya. Coba jawab pertanyaan dibawah ini,

  • Ingin seberapa besar omset yang ingin anda capai dalam waktu 1 bulan?
  • Ingin seberapa profit bisnis anda dalam waktu sebulan?
  • Ingin seberapa banyak produk laku terjual dalam 1 bulan?
  • Ingin seberapa banyak jumlah 1 jenis produk yang ingin anda jual?
  • Ingin terjual hanya untuk 1 wilayah kota saja atau ke seluruh Indonesia?

Karena tidak semata-mata loh jualan jadi begitu asyik setelah kita perbesar rencana meraih omsetnya, jumlah produk yang terjual, dan hal lainnya. Untuk itu, kita berkenalan dulu dengan sinyal-sinyal yang biasanya ditunjukkan oleh calon pembeli.

KEJAR TARGET VERSI DEDY BUDIMAN!

Seorang praktisi yang saya beli bukunya ini sungguh menarik. Tidak sebatas teori semata yang sulit dipraktekkan oleh para karyawan sales. Tapi juga ada cerita-cerita yang terus dituliskan di buku yang anda lihat di foto pada artikel ini. Jika anda ingin jualan dan memulai bisnis, anda harus mengubah mindset anda. Bahwa andalah yang memulai menjual produk anda sendiri. Jika anda tidak pandai menilai calon konsumen anda, maka jelas sekali kalau anda tidak cocok menjadi pebisnis. Untuk itu, kenali sinyal berikut sebelum anda merekrut karyawan penjualan.

  • Saya tidak tertarik untuk membeli.
  • Saya tertarik pada produk ini, tapi saat ini saya tidak ingin membelinya.
  • Saya sangat tertarik dan mungkin juga akan membeli produknya bila anda bisa menjawab beberapa pertanyaan yang saya ajukan.
  • Saya ingin membeli produk ini, sekarang!

Keempat hal diatas adalah sinyal yang paling sering dihadapi oleh pihak penjualan di dalam suatu perusahaan. Sama rata. Ada beberapa kasus khusus saja, tapi saya jaminkan, anda berjualan akan menemui sinyal-sinyal ini dari konsumen anda.

Kalau online itu, biasanya calon konsumen sudah memberondong tanya macam-macam terkait produk.  Hal paling sering terjadi dan anda tidak boleh lelah menjelaskan berulang kali pada konsumen melalui chatting. Nantinya anda akan terbiasa menjawab dengan efisien mengenai produk anda pada konsumen. Kemudian bertanya yang tidak terkait langsung dengan spesifikasi produk. Semisal harga bisa didiskon tidak, ongkir bisa gratis tidak, paketnya bisa dikirim rapi tidak, pengiriman bisa memilih tidak pakai ekspedisi apa, dan hal lain. Kedua hal itu termasuk dalam poin ketiga bahwa calon konsumen sudah sangat tertarik dan akan membeli jika anda bersedia menjawab pertanyaan-pertanyaan mereka dengan sabar.

Bacalah buku beliau dan anda akan mendapatkan cara praktis yang sering anda temui nanti saat berjualan. Baik online maupun offline.

KAPAN HARUS MOVE ON KE CALON KONSUMEN LAIN?

Banyak penjual yang baru memulai, seakan tergesa-gesa dengan calon konsumennya. Didesak ingin segera membeli atau tidak melayani dengan baik karena lelah dan capek tidak terjadinya penjualan sesuai yang anda inginkan. Masih dari bukunya mas Dedy Budiman. Ada 5 hal yang berkaitan dengan kita harus beralih ke konsumen yang lain dari konsumen yang lama.

  • Asumsi
  • Biarkan Saja
  • Cerita
  • Dua Pilihan
  • Empati

Jika konsumen tidak bisa kita arahkan untuk membeli dengan teknik asumsi, maka kita tinggalkan. Seperti, pembelian belum terjadi, tapi kita anggap saja pembelian sudah terjadi seperti ini,

“Maaf kak, ini nanti alamatnya pengirimannya bisa segera dituliskan kak, dan kami fotokan nanti paket kakak.” Agar mendorong calon konsumen berkata, “ya oke, ini alamatnya ya.” atau sejenisnya. Biasanya jika calon konsumen tidak membalas chat dari anda setelah teknik asumsi ini, berarti memang saat itu mereka bukanlah konsumen anda.

Biarkan saja adalah teknik yang sering disalah artikan dan digunakan terlalu cepat baik dari segi penjualan offline maupun online. Biasanya, penjual yang baru memulai membiarkan calon konsumennya begitu saja dengan 1-2 kali pertanyaan umum. Padahal bisa fatal. Contohnya seperti ini.

“Pak ini harganya berapa ya?” tanya seorang konsumen

“Rp 150ribu Pak.”

“Gak bisa kurang nih? Setengahnya aja ya.” Bujuk konsumen itu.

“Gak bisa, sudah harga pasnya segitu.” Kemudian percakapan tidak berlanjut.

Hal ini bisa sangat fatal. Karena nantinya anda akan mendapatkan label penjual tidak ramah. Teknik biarkan ini harusnya digunakan setelah anda menjelaskan panjang lebar terkait dengan produk anda. Karena kita nantinya akan mengerti bagian mana dari konsumen yang merasa mereka tidak suka dengan penjualan mereka. Kemudian diakhir nanti anda bisa memberikan pesan terakhir seperti ini.

“Terima kasih kak sudah menghubungi kami. Jika ada hal yang kurang berkenan, mohon maaf kak, mungkin kakak punya waktu untuk memberikan saran pada kami.” Karena calon konsumen akan merasa sangat diperhatikan walau tidak membeli. Kedepannya, jika kita tawarkan lagi dan mereka ingat dengan produk kita, maka dengan mudah mereka akan menimbang-nimbang untuk membeli jauh lebih mudah dari sebelumnya.

Sinyal-sinyal ditunjukkan setiap orang dalam berbagai hal baik itu dari ucapan mereka, maupun prilaku tubuh mereka. Tidak hanya masalah menjual saja loh. Sikap yang setuju maupun tidak setuju juga ditunjukkan dalam banyak hal. Masalah keluarga sampai cinta, masalah politik sampai pendidikan. Temukan dan pelajari sinyal-sinyal itu, terkait sinyal yang menunjukkan konsumen itu layak untuk anda tawari produk maupun tidak.

Untuk mengetahui teknik dan tips seputar penjualan dari segi praktisi sales selama belasan tahun. Silahkan baca di buku beliau. Karena sesungguhnya, menjual itu mudah. Sulit jika anda begitu saja memperbesar target penjualannya. Menjual 1 barang dalam sebulan seorang diri itu mudah. Sungguh. Tapi 100 barang dalam sebulan seorang diri itu tantangan.

(Visited 292 times, 1 visits today)

Apa Komentarmu?