Sedih Itu Saat Karyawan Tidak Disiplin

Sedih Itu Saat Karyawan Tidak Disiplin

Rasa malas pasti luar biasa. Apalagi di kantor. Hampir semua orang mengalaminya. Masalahnya muncul tidaklah sesederhana itu ternyata. Tidak mood, bosan, merasa tidak bersemangat akhirnya timbul dan menumpuk hingga berhari-hari. Bingung kan jika anda seorang owner dari usaha kecil, manager, atau  pemegang kepentingan di kantor yang ingin agar karyawan termotivasi, eh, ternyata malah uring-uringan. Masih mending kalau akhirnya kerjaannya beres. Kalau tidak?

Belum lagi kalau kerjaannya memang tidak banyak, tapi juga tidak selesai. Niat ingin agar omset naik drastis, malah sebaliknya terjun bebas. Hanya karena satu dua karyawan yang memang tidak disiplin. Ya, buntut dari bosan berkepanjangan akan muncul ketidakdisiplinan diri. Cukup menjengkelkan karena bagi owner dan manager, harus bolak balik pikir pakai otak agar sang karyawan ini mau kembali bersemangat dan memperbaiki attitude-nya yang sempat anjlok. Lantas bagaimana?

BICARA LAYAKNYA ORANG DEWASA

Banyak yang melakukan tindakan seketika dengan arahan yang salah. Marah-marah pada karyawan. Bersikap ketus bahkan menyiksa. Akhirnya mengekang dan juga mempersulit. Bukannya malah mencari solusi untuk karyawan tapi sebaliknya menghadapkan karyawan pada pilihan sulit. Berubah paksa atau diberhentikan. Banyak owner dan manager akhirnya menerapkan sistem lama dan jadul. Memang efektif namun bisa berakibat fatal dikemudian hari. Seperti yang dituliskan oleh huffingtonpost, bahwa cara kita bicara pada karyawan berbeda dengan cara kita bicara pada anak. Tapi faktanya kita sering menggunakan cara kita bicara pada anak untuk menghadapi karyawan yang tidak disiplin.

  1. Goal dari cara kita bicara pada anak adalah disiplin. Goal dari cara kita bicara pada karyawan adalah selesainya masalah.
  2. Kepemilikan masalah bertumpu pada supervisor, manager, owner. Kepemilikan masalah bertumpu pada karyawan.
  3. Mindset oleh owner, supervisor dan manager adalah karyawan dinilai mutlak dari catatan dokumen, laporan, dan hasil kerja. Mindset yang semestinya dilakukan adalah mencari akar dari masalah dan memahaminya.
  4. Cara bicara lebih pada satu arah. Layaknya ayah pada anaknya. Berakhir pada ancaman. Semestinya pembicaraan adalah dua arah yaitu antara orang dewasa dan orang dewasa.
  5. Hasilnya lebih banyak marah, menghukum, dan memPHK. Hasilnya semestinya mampu mengubah kebiasaan buruknya, meningkatkan peformanya, dan PHK terjadi jika memang karyawan tidak secara sadar mau untuk berubah.

Jika manager dan karyawan terjebak pada hal yang pertama, maka penyelesaian tidak akan pernah berhasil dan akan menemui jalan buntu yang sama. Yaitu PHK paksa dan rekruitmen kembali. Walau terkesan mudah ditulis dan diucapkan nyatanya sulit untuk praktek. Saya sendiri masih mencoba menjadi bijak dengan bicara dua arah. Namun sekali lagi tidak semua karyawan mampu untuk bisa dan sadar diri berubah. Malah sebaliknya banyak yang akan menyalahkan pihak perusahaan.

3 CARA AGAR KARYAWAN MAU BERUBAH

Jelas yang paling pertama adalah mengajaknya bicara. Karyawan yang dipanggil oleh HRD, manager, atau owner akan merasa dirinya punya salah. Masalahnya bisa terjadi miskomunikasi. Setelah karyawan tahu bahwa beberapa tindakannya tidak tepat oleh perusahaan, maka kemudian jelaskan dan tanyakan apa yang sebenarnya menjadi beban pikirannya. Nanti karyawan akan mengutarakan pendapatnya. Lalu negoisasikan dengan karyawan tersebut. Jika masih bisa anda penuhi keinginan mereka, maka penuhilah. Jika tidak maka bisa kembali melanjutkan pekerjaan.

Beberapa karyawan akan merasa teguran pertama bisa sangat berbahaya untuk lanjut ke teguran kedua yang berisi surat ancaman atau SP (surat peringatan) pertama. Jika cara pertama mampu membuat karyawan tersebut berubah, penuhi keinginannya, maka masalah akan selesai. Karyawan akan kembali bekerja sebagai mana mestinya dan disiplin. Jika tidak?

Lakukan cara kedua yaitu berikan training dan seminar. Beberapa karyawan malah sebenarnya ingin berkembang tapi dia tidak tahu darimana harus belajar. Seminar dan training yang tepat akan membantu mereka memahami lebih baik lagi apa yang semestinya mereka kerjakan di kantor. Cara kedua ini cukup signifikan hasilnya karena karyawan yang masih saja melakukan attitude buruk selepas diberikan seminar dan training bisa kita panggil kembali. Kita ingatkan pada seminar dan training yang dia ikuti, habis biaya berapa, dan harapan perusahaan terhadap kinerjanya setelah seminar dan training tersebut. Jika masih tidak bisa?

Cara ketiga adalah pemanggilan terakhir untuk dijabarkan berbagai macam kesalahan dan tindakan yang tidak tepat yang telah mengganggu fungsi kerja dari perusahaan. Nantinya kita bisa memberikannya kesempatan untuk melakukan pekerjaan dengan tenggat waktu 1 bulan. Jika peformanya tidak meningkat, attitude-nya masih buruk, jelas bahwa dirinya akan diberikan dispensasi atau skorsing. Liburan sementara tidak kekantor untuk tidak semakin mengganggu ketertiban di kantor. Jika masih tidak bisa, maka jelaskan bahwa kontraknya tidak akan diperpanjang jika beberapa aturan perusahaan masih tidak dipenuhi, job desk dan SOP-nya masih tidak juga dikerjakan.

Akhirnya, cocok-cocokan lagi deh, antara manager dengan karyawan, antara owner dengan anak buahnya. Penting untuk menerima semua masukan dari karyawan perihal ketidakdisiplinan mereka. Hampir 90% masukan dari karyawan sebenarnya mampu meningkatkan kinerja perusahaan. Tapi sebaliknya, ada yang hanya membanding-bandingkan saja antara tempat usaha anda, kantor yang anda atur, dengan perusahaan lain. Semoga bermanfaat ya.

Photo by Nik MacMillan on Unsplash

(Visited 11 times, 1 visits today)

Apa Komentarmu?