Pahitnya Perubahan Harus Dijalani Fujifilm

Pahitnya Perubahan Harus Dijalani Fujifilm

Sejak dulu, saya paling suka diajak ke studio foto. Kenapa? Bagi anak kalimantan yang di era tahun 90an belum juga banyak Mall berdiri, studio foto merupakan salah satu sarana hiburan. Aneh ya? Tapi di sana, saya melihat mahirnya fotografer memotret serta memajang hasil foto mereka. Bahkan diantara toko yang ada, sebelum internet berkembang pesat seperti sekarang, studio foto layaknya dunia lain dari masa depan. Berisi beragam alat-alat fotografi yang canggih dan unik. Harganya yang tidak murah juga membuat saya seperti menemukan toko game seperti sega, nitendo atau playstation.

Dalam artikel saya yang berjudul, Berubah atau Mati Adalah Pilihan yang Sama-sama Sulit, telah dijelaskan bahwa dalam berbisnis tidak ada namanya stagnan. Tidak ada istilahnya duduk diam angkat kaki minum kopi baca koran dan untung akan datang. Hehe. Nyatanya mencari-cari berita artikel terbaru akhirnya ketemu juga. Saya baca dari tirto tentang Fujifilm yang banting haluan lini usaha menjadi produsen kecantikan. Nah loh? 180 derajat dari yang dulunya benar-benar teknologi, menjadi produsen kecantikan.

ANGIN SEGAR DARI SHIGETAKA KOMORI

Pahit banget kisah ini. Jujur membacanya di tirto saya sedikit paham jalan panjang Fujifilm bersaing dan bertarung puluhan tahun di ranah bisnis fotografi. Bayangkan didirikan sejak tahun 1934, bahkan nyonya Mener saja sudah tidak sanggup berdiri. Saya juga berpikir Fujifilm ini juga tidak mampu bertahan. Karena industri memotret sekarang ini sudah meluas. Tidak sekedar dari kamera analog saja. Tapi orang sudah menggunakan kamera digital sampai cari praktisnya saja motret dari hape. Malah praktis langsung upload di Instagram.

Shigetaka ini menjabat di Fujifilm sebagai CEO tahun 2001 dan saat itu mengalami gejolak hebat pada bisnis sektor fotografi ini. Dalam perjalanan hidupnya Fujifilm sendiri telah banyak melakukan beragam inovasi produk. Tidak sebatas pada kamera loh. Dari alat kesehatan dan juga mesin fotokopi. Namun tentu sekarang bukan tanpa masalah. Karena harus berhadapan dengan kerasnya zaman. Hingga akhirnya perubahan pahit harus dilakukan kembali agar tetap hidup.

Berpikir keras hingga Komori mendapati bahwa ada suatu zat kimia yang digunakan untuk mempertahankan kualitas warna pada foto juga dapat digunakan untuk kulit. Tahun 2006 Fujifilm mengenalkan Astalift yaitu produk perawatan wajah. Sekarang mereka sedang melakukan riset untuk obat-obatan yang benar-benar didambakan masyarakat seperti Alzeimer dan kanker. Benar-benar perubahan yang melepaskan ego diri masa lalu sebagai perusahaan juaranya di bidang fotografi.

BERPIJAK PADA MASA DEPAN BUKAN MASA LALU

Beberapa minggu yang lalu saya juga sempat membaca buku karya Profesor Renald Khasali tentang Disruption. Beberapa poin yang saya dalami adalah tentang perubahan itu sendiri. Banyak perusahaan baik muda atau tua, baik baru bisa berkembang 2-5 tahun maupun puluhan tahun akan mengalami masalah yang sama yaitu masalah perkembangan zaman.

Tidak ada yang bisa memprediksi zaman, tentang teknologi apa yang akan muncul di tahun-tahun kedepan. Fujifilm pun yakin bahwa internet, teknologi kamera digital, tidak akan mengalahkan teknologi kamera mereka yaitu kamera analog. Eh, nyatanya perkiraan meleset dan kamera digital serta internet yang membuatnya semakin terkenal menenggelamkan kamera analog. Poin pentingnya adalah bahwa perusahaan besar manapun, dipastikan sangat bangga dengan dirinya sendiri.

Kepercayaan diri yang berlebihan ini mampu membutakan mata, membuat para pendirinya, direktur, CEO atau apapun namanya kehilangan kemampuan untuk menjadi lincah. Akhirnya tindakan dan kebijakan untuk menyelamatkan perusahaan hanya melulu pada inovasi sekitar produk saja. Tidak ada yang mau banting setir 180 derajat untuk bisa kembali mencoba dari nol. Semua karena masa-masa kejayaan yang lalu dianggap bisa diraih kembali. Itulah maksud bertumpu pada masa lalu. Akhirnya malah membawa pada kegagalan.

Setiap orang yang ingin sukses, harus segera berpijak pada masa depan. Secepat mungkin. Artinya masa depan yang mulai terlihat perkembangan trendnya apa ya harus segera diambil tindakan nyata dan pasti. Untuk perusahaan skala kecil bukan berarti tidak mengalami masalah juga loh. Kantor saya beberapa kali mengalami masalah tentang ini, terlalu bangga atas pencapaian dan lupa untuk bisa terus memberikan inovasi. Tidak berani mengambil tindakan dalam pemilihan produk yang 180 derajat berbeda dari sebelumnya. Ya, menjadi tugas saya untuk terus menyadarkan banyak pihak di kantor bahwa kita harus terus berubah untuk bergerak maju. Bukan sebaliknya terlalu bangga dengan yang sudah ada.

Nah, kisah Fujifilm ini bisa dijadikan contoh loh. Mereka bukti nyata berhasilnya perusahaan bergerak lebih maju setelah membongkar dan menciptakan ulang dari awal, tanpa takut melepas kebanggaan mereka di masa lalu sebagai juaranya industri fotografi.

(Visited 60 times, 1 visits today)

Apa Komentarmu?