Mau Tahu Caranya Jadi Karyawan Berprestasi?

Mau Tahu Caranya Jadi Karyawan Berprestasi?

Banyak mitos seputar dunia kantor. Sungguh. Ini saya rasakan sendiri mendidik karyawan itu memang sulitnya setengah mati. Bukan karena mereka tidak bisa. Tapi masalah faktor kemauan diri yang tidak punya. Karyawan cerdas itu bertebaran dimana saja. Tapi tetap saja kalah dengan mereka karyawan yang gigih dalam berjuang. Kok bisa?

Jika kamu belum bekerja wajar masih menganggap bahwa mereka dengan nilai-nilai tinggi di ijasah yang akan mendapatkan perlakukan super ueeeennaaakkk nanti setelah masuk kerja. Nyatanya tidak loh. Setiap manager telah dididik untuk melihat siapa pun dalam standar keadilan. Walau nanti memang selalu ada “anak emas” diantara para karyawan, karena masuk ke perusahaan mungkin melalui jalur yang tidak resmi, punya kenalan atau sejenisnya, tetap saja tahun demi tahun yang nanti akan menentukan.

BERPRESTASILAH DALAM DISIPLIN

Coba deh, cek, siapa diantara teman anda (bagi yang sudah bekerja) masuk selalu diawal waktu. Semisal nih, jam masuk adalah jam 8 pagi. Tapi jam 7:30 dia sudah sampai di kantor. Terlihat dari absensinya. Beberapa perusahaan akan memberikan penghargaan soal yang masuk pagi ini. Sisanya tidak. Karyawan yang berprestasi dia akan sangat menghargai waktu. Setidaknya tidak datang di waktu yang mepet. Dengan penghargaan waktu inilah lambat laun atasan, manager, akan memandangnya baik. Dia punya attitude sebagai orang yang tidak melanggar aturan.

Jelas dalam dunia bekerja orang seperti ini yang mampu bertahan dan dipertahankan perusahaan ketimbang mereka yang akhirnya datang molor. Karena secerdas apa pun orang tersebut, jika tidak disiplin dirinya tetap akan merugikan banyak perusahaan. Rugi apa? Rugi waktu tentunya. Jika tidak disiplin maka pekerjaan yang dibayar dengan lamanya waktu dia bekerja bisa terganggu. Bisa juga merusak keharmonisan antar karyawan. Karena cerdas, dia seenaknya, maka dianggap anak emas si bos. Masalah bisa timbul kemudian karena yang cerdas merasa paling berpengaruh di perusahaan dibandingkan lainnya. Hal ini malah bisa bikin pusing manager karena akan muncuk keluhan-keluhan dikemudian hari oleh karyawan lainnya.

Saya mengalaminya sendiri. Seorang karyawan bisa saja sangat cerdas dengan penjualannya. Tinggi sekali angkanya. Dibandingkan yang lain. Masalahnya adalah dia kurang disiplin. Setelah berjalannya waktu, sebulan hingga enam bulan bekerja, peformanya menurun. Padahal dia cerdas, kenapa? Karena dia tidak membangun kebiasaan baik di kantor yaitu disiplin. Sehingga perasaannya lebih dominan terhadap peforma kerjanya. Sedangkan karyawan yang tidak begitu cerdas tapi disiplin, tampak peformanya stabil. Tidak tinggi tidak masalah namun dia tidak juga bermalas-malasan. Ini penting sekali karena perusahaan sangat butuh orang yang disiplin.

BERPRESTASILAN DALAM EMPATI

Coba cek siapa yang dikantor paling suka ngasih cemilan? Atau yang paling suka beres-beres, cuci-cuci, atau hal lainnya yang kita rasa gak penting banget deh untuk dilakuin. Kan sudah ada mas/mbak cleaning service. Nah, disinilah letak empati itu. Pada dasarnya empati menjadi sulit untuk dibentuk jika memang orangnya tidak terbiasa melakukannya. Tapi orang yang empatinya paling besar, akan mudah disenangi. Tentu dikemudian hari dialah yang paling mudah mendapatkan bantuan dari orang lain.

Hal ini berlaku juga sebaliknya. Coba cek di kantor ada tidak orang yang paling individualis? Pasti ada. Kita pun jadi males berurusan dengan orang tersebut. Diajak untuk ngumpul oke tapi giliran yang gak enak di kantor dia minggir. Giliran soal bantu membantu di kantor dia paling ogah, tapi giliran senang-senang dia paling rajin. Beberapa orang yang memiliki sikap seperti ini tidak jarang menjadi yang tidak berkualitas dan tidak berprestasi.

Logikanya mudah. Jika kita berempati, maka kita akan lebih sering membantu orang lain. Di lain waktu, kita akan lebih banyak mendapatkan peluang. Semisal nih, ada teman kantor tiba-tiba menawarkan pada kita mobil lamanya. Karena kita pengen banget punya mobil, tapi tabungan belum cukup. Eh, dia malah nawarin untuk bayarnya cicilan dan dengan jangka waktu tidak terbatas. Apa tidak enak? Bahkan tidak jarang misalnya ada yang nemu aja diskonan seperti tikel liburan, belanja di butik/distro, dia yang akan memberi tahu kita lebih dulu dibandingkan memberi tahu yang lain. Untuk hal pekerjaan pun demikian. Dia bisa saja menawarkan bantuan saat kita terpaksa kena jatah lembur dadakan.

Disiplin dan empati ini sudah jarang ditemui. Untuk itu giliran kitalah yang mengambil peran agar bisa mendapatkan prestasi dari dua cara ini. Akhirnya cerdas atau tidak juga tidak jadi masalah kan? Perusahaan tetap memandang karyawannya dengan baik kok. Manager juga akan senang karena telah mampu memetakan kemampuan kita masing-masing. Artinya, ilmu bisa dipelajari, kita bisa diikutkan training atau seminar. Tapi soal attitude ini sulit. Jika tidak dari diri sendiri memulainya, orang lain pun tidak akan mampu mengubahnya.

(Visited 68 times, 1 visits today)

Apa Komentarmu?