Kultur Apa yang Ingin Kamu Ada Dalam Perusahaanmu?

Kultur Apa yang Ingin Kamu Ada Dalam Perusahaanmu?

Perusahaan disini jangan diartikan terlalu sulit ya. Bahkan cuma toko online juga bisa kok disebut perusahaan. Atau cuma toko yang bertempat di ruko pinggir jalan. Setidaknya ada bos, owner dan pegawai yang rutin melakukan tugas-tugas dan pekerjaan hariannya. Nah, untuk itu, jika anda ingin buat perusahaan sendiri, dibidang jasa atau jual produk langsung, apa yang ingin anda taruh sebagai kultur perusahaan?

Kultur perusahaan itu apa sih? Kultur itu seperti apa sih yang harus karyawan lakukan tanpa memandang jabatannya di perusahaan tersebut. Setidaknya kultur perusahaan mampu menjadi alasan yang kuat untuk fondasi perusahaan menatap masa depan. Bisa juga diartikan sebagai visi perusahaan yang telah tertanam di perusahaan. Sedangkan beberapa kultur tampak sulit dipraktekkan tapi beberapa tampak mudah.

Setelah membaca berbagai sumber, kultur perusahaan itu dibentuk dengan keteraturan dan kesabaran. Seperti kultur disiplin, yaitu setiap karyawan harus masuk 5 menit sebelum jam masuk kantor. Baik shift pagi, sore, maupun malam. Nah, memang konsepnya mudah. Tapi prakteknya bagaimana? Kalau ada yang melanggar apa hukumannya? Kultur inilah perjalanan panjang perusahaan agar bisa bertahan bersaing dengan para kompetitornya. Berikut saya ambil dan kutip beberapa dari SlideShare ya. Silahkan dibaca dibawah ini.

HARUS TRANSPARAN? ATAU TOP-DOWN?

Beberapa perusahaan yang baru dibentuk akan mengalami dilema ini. Setiap pekerjaan itu harus transparan atau harus top-down? Bedanya apa? Transparan itu biasanya baik manager maupun karyawan tidak menyembunyikan informasi apa pun perihal kerjaan. Manager tidak menjadi satu-satunya orang yang menyuruh saja dan karyawan tidak menjadi orang yang asal nurut. Transparan dianggap cukup berbahaya karena jika ketegasan dai pihak owner tidak ada, perusahaan bisa cepat bubar.

Menariknya dari sistem transparan ini, setiap masalah baik teknik perusahaan maupun non-teknis, bisa segera diselesaikan. Karena transparan, bisa bergerak cepat. Kesalahan ada di pihak manager mapun karyawan bisa segera dikontrol dan diawasi. Tapi bagaimana dengan SOP dan KPI dari karyawan? Inilah yang harus dipikirkan. Karena menilainya cukup sulit karena kaidah transparansi ini dilakukan sehingga siapa pun bisa melakukan pekerjaan lebih banyak dari seharusnya, lebih efektif, lebih efisien, dan lebih berhasil, namun di satu sisi, ada yang pekerjaannya dibalik itu semua. Benar-benar sulit dilihat kalau tidak diawasi.

Top-down, ini cukup populer. Perusahaan terutama owner punya kuasa penuh. Menyuruh manager dan karyawan. Tanpa banyak terbuka ruang diskusi. Informasi tidak tersebar luas. Karyawan tidak bisa tahun menahu soal managerial dan hal lainnya ke atas. Kesulitan dari kultur ini berarti setiap masalah rumit, karyawan tidak mengambil peran. Hanya bagian manager dan keatas yang harus menyelesaikannya. Padahal tidak semua orang yang berada dibagian manager keatas sanggup mencari solusi untuk masalah yang dihadapi. Tidak mengherankan kultur top-down ini sering gonta-ganti jajaran manager.

Memang lebih mudah top-down, kerjaan juga jelas, siapa bertanggung jawab atas siapa, dan lainnya. Tergantung dari anda sendiri ingin membangun perusahaan seperti apa. Tidak ada kedua kultur itu yang lebih unggul satu sama lain.

HARUS TRUST DAN FLEKSIBEL?

Kedua dan cukup penting bagi perusahaan anda adalah hal ini. Kepercayaan dan fleksibel cukup rumit dipraktekkan di perusahaan. Karena manusia sebenarnya sangat suka melihat apa yang tampak dan cukup malas untuk memberi kesempatan pada apa yang tidak tampak. Sebenarnya hal ini selalu terjadi baik di perusahaan kecil maupun besar. Inilah yang sering juga menyebabkan adanya politik kantor.

Tapi hal ini bisa meningkatkan produktivitas asal tepat. Kultur percaya antar karyawan, percaya antar departemen, percaya antara manager dan karyawan harus dimulai sejak perusahaan dibentuk. Tujuannya? Agar beban kerja bisa segera merata dan juga produktivitas meningkat. Tentu omset dan profit akan mengikutinya. Lalu bagaimana dengan fleksibel? Ini juga terkait dengan trust itu tadi. Semisal nih, manager mempercayakan pekerjaan pada karyawan dibawahnya untuk menangani hal baru yang karyawan itu belum pernah melakukannya. Pilihannya cuma dua. Berhasil atau tidak. Jika berhasil, maka manager bisa fokus ke hal lain dengan segera yang menjadi masalah atau tantangan perusahaan. Tapi jika tidak, maka manager harus menarik karyawan tersebut dan memilih yang lain.

Trust dan fleksibel ini sendiri merupakan kultur yang akan menghasilkan sikap-sikap inisiatif dan terbuka pada perubahaan. Perusahaan yang terlalu malah menyebabkan sulit bergerak. Apalagi berkembang akan mudah kalah oleh kompetitor. Mudahnya saja, perusahaan jual produk fisik langsung, apakah penjualannya harus melalui outlet, toko begitu? Bagaimana dengan online? Begitu juga sebaliknya, jika sudah secara online, apakah tidak segera membuka toko? Hal-hal seperti ini butuh kultur fleksibel itu tadi. Sikap cepat dan tanggap yang diingikan oleh banyak owner bisnis.

Jadi kesimpulannya, buatlah transparan mungkin atau memang top-down, lalu isi dengan fleksibel serta kepercayaan. Dimulai sejak dini. Jangan ragu jika bertemu dengan masalah seperti karyawan yang curang, yang tiba-tiba resign dan membuka bisnis serupa, karena kultur ini sejujurnya tidak bisa ditiru sama sekali. Hanya pengalaman dan pembelajaran dari perusahaan sendirilah yang akan menjadi jawabannya. Nah, anda ingin kultur apa nih yang ingin ada di dalam perusahaan anda?

Photo by Jakob Owens on Unsplash

(Visited 136 times, 1 visits today)

Apa Komentarmu?