kesalahan berbisnis

Kegagalan Paling Sering Terjadi Berbisnis Tidak Anda Pahami

Sudah membuka bisnis? Owner, anda, sudah memiliki toko di pinggir jalan? Atau malah sudah punya website keren abis dengan produk digital yang super mantab? Jika ya, kenapa bisnis anda tidak berkembang? Atau malah gagal ditengah jalan?

Setelah dari medium (website keren tempat berbagi dari para profesional mengenai ulasan apa pun), saya terdampar di appsterhq. Sederhananya, appsterhq mencoba menjelaskan, apa sih yang harus kita miliki dalam membina sebuah perusahaan startUp digital yang baru. Walaupun sangat mendasar, ternyata bisa juga dipraktekkan dibisnis yang lain loh. Lihat daftar urut dibawah ini,

  1. Focus
  2. Problem
  3. Market
  4. Solution
  5. Revenue

Apa yang menjadi fokus diperusahaan anda? Bergerak dibidang apa yang anda inginkan? Masalah apa yang ingin perusahaan anda pecahkan? Pasar atau konsumen mana yang menjadi target dalam pemecahan masalah itu? Apa yang ingin anda berikan solusi untuk konsumen terkait dengan produk anda? Model bisnis seperti apa yang bisa anda jalankan untuk meraih keuntungan?

“Loh, saya sudah kok melakukan hal diatas, apa yang salah?”

Nah, ini hal mendasar yang sering salah melangkah dalam berbisnis.

SKILL, PASSION, MONEY HARUS TERKAIT

Ini yang sering salah. Saya beri contoh. Anda membangun bisnis jualan kaos. Itu passion. Oke. Lalu anda juga punya skill desainnya dan juga tahu tempat sablon kaos terbaik yang bisa menghasilkan kaos sesuai strandar yang anda inginkan. Anda buat lalu jadi. Masalahnya, ternyata berjalan 3-6 bulan, penjualan kaos gitu-gitu aja. Salahnya dimana?

Bisnis harus terkait ketiganya dan tidak bisa dipisahkan. Dengan memisahkan skill, passion dan money, anda akan merasa cepat bosan, merasa bingung melangkah, dan juga cepat bangkrut. Ketiganya harus terkait. Banyak owner bisnis memulai dari dua hal yaitu skill dan passion. Tapi lupa belajar cara berbisnis itu seperti apa. Tidak mengherankan nih, banyak sekali kafe kopi di kota anda yang sepi pelanggan. Padahal setelah anda kunjungi, toh rasa kopinya enak. Tempatnya nyaman bahkan cocok buat anak muda foto-foto. Lalu kenapa tetap sepi?

Masalahnya lagi, tidak sesederhana yang kita bayangkan. Kafe kopi sepi, berarti cari lokasi strategis. Nyatanya beban biaya sewa tempat malah membuat kita gulung tikar. Sama saja? Iya, kafe ramai pengunjung tetapi kok omset dengan profit selisihnya sedikit. Inilah mengapa ketiga hal diatas saling terkait dan sangat wajib tidak boleh dipisahkan. Nantinya akan muncul model ideal dari bisnis anda.

Kembali ke kaos. Lalu bagaimana harusnya? Ya, cari dulu pasarnya. Mau menargetkan anak muda yang mana? Usia berapa? Mereka yang hobi kartun jepang/anime atau mereka yang hobi musik korea? Mau konsumen yang punya duit banyak atau yang pas-pasan? Karena berbeda nanti hasil produknya. Tidak bisa sama. Bahkan sulit ada produk yang terbentuk dengan sendirinya pasar itu. Ada tapi sangat jarang sekali. Jika baru memulai, jangan paksakan untuk terlihat idealis, passion melulu atau skill melulu. Karena tanpa belajar bagaimana produk anda bisa terjual, maka sama saja anda mengoleksi produk anda sendiri di gudang.

LUPA ILMU MANAGEMEN PERUSAHAAN

Ingat, membangun bisnis sekeren apa pun bahkan produk anda digital seperti website, ebook, software, image, audio, video, tetap saja tanpa dukungan team yang tangguh, anda akan tergelincir dengan cepat. Bahkan seorang karyawan kantor saya mengatakan hal ini,

“Produk yang nge-trendnya cepat, biasanya matinya cepat mas,” loh kok bisa?

Ya, karena ilmu managemen perusahaannya tidak dimiliki. Yang penting jalan dulu, omset besar hingga milyaran, urusan dapur kantor ya urusan nomer buncit. Ya masalah deh kalau seperti ini. Contohnya seperti makin pudarnya bisnis franchise di indonesia.

Bukan karena produknya gak keren loh. Bahkan produk franchise cenderung unik dan keren. Bukan karena gak ada pasarnya loh. Bahkan banyak yang mencari-cari produk yang dulu franchise kini telah hilang. Bukan karena tidak tangguh skill-nya. Buktinya banyak dulu masyarakat berlomba-lomba menanamkan investasi mereka ke franchise ini. Karena kurangnya managemen, akhirnya tumbang dengan cepat. Bocor biaya dimana-mana. Janji manis pada para investor tidak terpenuhi. Belum lagi adanya kelangkaan bahan mentah. Belum lagi biaya training karyawan melambung tinggi akibat banyaknya turn-over karyawan. Dan hal lain yang harus dipelajari.

“Wah, bisnis merepotkan ya?” Tidak juga. Karena kalau sendiri terasa berat. Untuk itu, untuk bisa mengaitkan antara passion, skill, dan money sebelumnya, anda juga harus pilih-pilih strategi bisnis. Pilih-pilih siapa yang akan anda ajak untuk berkolaborasi/ partner bisnis. Siapa yang anda rekrut untuk jadi karyawan. Semua harus dijalankan perlahan tanpa menyampingkannya.

Karena hal terpenting untuk bisnis berkembang yaitu bertahan memulainya. Jika bisa bertahan dengan omset 10-50 juta rupiah sebulan, maka pertahankan, sembari membenahi managemennya. Lalu anda bisa meningkatkannya dengan hal-hal apa yang belum anda tambahkan dalam bisnis. Hal ini dasar, tetapi sering diabaikan. Jangan lagi karena cuma produk harus keren, akhirnya kaku soal managemen. Produk harus terjual habis, tapi lupa tentang cara menanggapi keluhan konsumen. Nah, semoga bermanfaat ya.

(Visited 82 times, 1 visits today)

Apa Komentarmu?