Karena Percaya Mereka Akan Loyal Padamu

Karena Percaya Mereka Akan Loyal Padamu

Pelajaran bisnis, motivasi karyawan, managemen kantor, harus selalu dipelajari berulang-ulang. Istilahnya harus sampai kulit mengelupas, menancap tidak cuma dalam daging saja, tetapi sampai pada tulangnya. Begitu juga saya harus setiap hari mencari hal-hal yang sudah ada atau yang baru bagi diri saya sendiri. Tujuannya? Tentu untuk menjadi alasan kuat mengapa Anda tetap membaca blog ini dan juga karyawan saya bisa betah dengan saya.

Oke, seorang Simon Sinek yang videonya dalam Ted Talks menginspirasi sejak tahun 2009. Lama sekali ternyata ya. Namun ilmunya tidak pernah usang hingga sekarang. Masih bisa diambil, diadaptasi dan dicontoh dalam dunia pekerjaan maupun bisnis. Kali ini, saya akan membahas apa sih yang dibicarakan oleh Simon?

Simon menjelaskan alasan penting mengapa orang lebih memilih Apple daripada merek lain seperti Dell atau Samsung untuk perangkat seperti laptop dan handphone mereka. Karena banyak dari kita tidak sadar hal dasar ini. Dengan hal dasar ini, setiap perusahaan mampu tumbuh besar dan berkembang bahkan dicintai oleh karyawannya serta konsumennya. Bayangkan betapa validnya pelajaran yang dia berikan.

Singkatnya, ada 3 golden circle menurut Simon mengapa orang lebih memilih Apple. Rela antri berjam-jam untuk produk barunya (disaat itu tahun 2009 tentunya). Ternyata jawabannya cuma satu. Yaitu karena WHY!

WHY DULU BARU HOW KEMUDIAN WHAT!

Apple berhasil membuat orang percaya dan yakin seyakin-yakinnya bahwa produknyalah yang paling mampu memberikan nilai positif, gengsi yang tinggi, status sosial yang tinggi di masyarakat. Padahal produknya setelah berjalan bertahun-tahun sekalipun, tidak jauh lebih baik dari merek Android di pasaran. Dibanderol harga selangit masih saja ada yang mau beli. Kok bisa?

Karena WHY! Apple mendefinisikan produk mereka dengan alasan apa agar orang mau memilikinya. Itu dulu. Produk merek lain tidak begitu. Mereka cenderung terbalik. Lebih pada WHAT dulu. Seperti apa sih yang harus kita unggulkan bukan kenapa sih harus fitur ini yang diunggulkan. Atau apa sih yang membedakan dengan produk lain bukan kenapa sih harus berbeda dari produk lain. Saat menentukan terbalik inilah maka kekalahan dalam bisnis pun terjadi.

Contohnya jelas semisal BBM dan Nokia tidak mampu mentransfer WHY mereka pada konsumen. Sehingga fitur secanggih apa pun, perbedaan seunik apa pun, orang tetap tidak setia menunggu produk tersebut. Sedangkan Apple, bahkan baru rumornya saja, orang sudah ramai membicarakannya di internet.

Bagaimana dengan HOW! Jika kita mampu menempatkan produk dalam takaran WHY, maka setelahnya HOW akan mudah dijabarkan. Semisal nih, kenapa sih harus beli jilbab dari kamu? Lalu pertanyaan selanjutnya, bagaimana jilbab kamu ini bisa berbeda dan unik dari produk jilbab lainnya? Lalu terakhir, apa yang membuat jilbabmu patut aku beli? Terasa kan? Setiap jawaban dari pertanyaan berurutan dengan benar itu dari WHY-HOW-WHAT akan menciptakan rasa orang ingin sekali tahu dan penasaran ingin memiliki. Karena kita menempatkan alasan mendasar lebih dulu tentang suatu produk sebelum dimiliki.

Jika terbalik, kita akan terjebak pada terus menerusnya berinovasi hingga tidak bisa membedakan produk kita dengan produk orang lain. Layaknya perang berdarah-darah di penjualan handphone Android. Antara satu dan lainnya sama saja kan? Entah kameranya yang pixelnya lebih besar, layar lebih lebar, baterai yang tahan lama. Sehingga tidak perduli mau mereknya apa, ya sudah pokoknya sesuai dengan kebutuhan WHAT mereka. Bukan karena WHY mereka harus membeli produk tersebut.

MEMBUAT KARYAWAN MERASA LOYAL

WHY juga berperan dalam membangun perasaan loyal pada karyawan. Sekarang jawab ini, kenapa sih karyawanmu harus bekerja denganmu padahal banyak diluar sana pekerjaan yang lebih enak, menjanjikan, bergaji besar, fasilitas mewah, tunjangan tinggi? Jika kamu bisa menjawabnya, maka kamu bisa mentransfer nilai alasan tersebut pada karyawan.

Saya sendiri berusaha untuk melakukannya. Dengan berbagai macam cara termasuk 3 golden circle dari Simon ini.

Saya contohkan ya,

  • Kenapa kamu mau menjual produk yang ada di perusahaan ini padahal di perusahaan lain juga menjual hal yang serupa?
  • Kenapa kamu mau terus bertahan di perusahaan ini padahal bisa jadi perusahaan ini tahun depan bangkrut?
  • Kenapa kamu mau berada di posisi kerja saat ini padahal di perusahaan lain kamu bisa menduduki jabatan yang lebih tinggi?

Dengan mengajak karyawan berpikir WHY tentang hidup mereka, pekerjaan mereka, dan perusahaan tempat mereka bernaung, maka mereka akan mencari jawaban dan jalan sendiri untuk alasan yang mereka percayai.

Tidak mengherankan bagi saya, seorang karyawan yang telah sampai pada fase WHY ini, mau perusahaan tempatnya jatuh sekali pun sampai berhutang dan bangkrut, mereka akan tetap setia. Karena mereka telah percaya dengan alasan mereka berkontribusi di perusahaan tersebut.

Sedangkan karyawan yang belum sampai disana, hanya karena WHAT seperti apa sih bagusnya perusahaan ini? Apa sih yang bisa kunikmati dari perusahaan ini? Apa sih yang bisa membuat gajiku lebih besar? akan mudah sekali goyah dan berpindah. Begitu juga kalau hanya sampai HOW seperti bagaimana ya agar bos tidak tahu kesalahanku? Bagaimana ya agar pekerjaanku selesai tepat waktu? Bagaimana ya agar makan siangku enak?

Karena karyawan yang hanya sampai pada fase WHAT dan HOW cenderung mudah sekali goyang dan goyah saat mendapati godaan dari luar yang lebih menarik dibandingkan yang ada di kantornya sekarang. Sekarang terserah anda bagi pemilik perusahaan, ingin WHY seperti apa yang harus karyawan anda miliki. Sedangkan anda seorang karyawan, ingin sudah siapkah untuk memasuki fase WHY sebagai bentuk kontribusi untuk perusahaan.

(Visited 51 times, 1 visits today)

Apa Komentarmu?