Kapankah Harus Mengurangi Karyawan?

Kapankah Harus Mengurangi Karyawan?

Halo semua! Lama gak update lagi di blog ini. Sabar, lagi sibuk urusan puasa dan menjelang lebaran. Biasanya para pebisnis bakalan sibuk urusin order yang makin meningkat. Bener? Yups bener banget! Karena daya beli masyarakat Indonesia tiba-tiba meningkat hebat. Nah, kali ini saya akan membahas hal yang sebenarnya bisa jadi rujukan bagi para UMKM atau bisnis kecil skala mikro. Karena banyak sekali yang akhirnya malah gulung tikar dengan cepat tidak secepat pemasukan atau profit yang di dapatkan. Langsung aja ya, kita bahas satu masalah yang sering terjadi yaitu kinerja karyawan.

Berhentikan Bagi Yang Terlihat Tidak Mampu Beradaptasi

Banyak pebisnis gulung tikar karena merasa kasihan. “Kasihan mas, kalau harus diberhentikan,” duh ini yang gawat. Lebih kasihan lagi harusnya pada karyawan lain yang kinerjanya bagus daripada mempertahankan satu-dua karyawan yang kinerjanya buruk.

Indeks penilaian kinerja karyawan ini banyak sekali. Tapi umumnya dibagi menjadi SOP dan attitude.

Karyawan dituntut untuk bisa beradaptasi dengan cepat memahami SOP yang diberikan. Bagi UMKM jangan sampai lebih dari 3 bulan mempertahankan karyawan yang tidak mampu beradaptasi. Masalah akan muncul pada aliran pekerjaan di kantor. Satu karyawan yang sulit beradaptasi akan membuat kecepatan kerja karyawan lain terganggu. Dan, mari cek lagi karyawan anda ada tidak yang seperti ini?

Kemudian attitude. Ada karyawan yang mampu mengerjakan sesuai SOP tapi attitudenya tidak baik. Bukan berarti karyawan itu selalu buat masalah di kantor ya, tetapi karyawan itu seperti tidak termotivasi bekerja. Saya ambil contoh, seorang karyawan dengan satu job desk bisa menyelesaikan misalnya 1-2 jam. Tapi ada karyawan yang dia menyelesaikan selalu 3-4 jam untuk satu job desknya. Akhirnya pekerjaannya selalu tidak selesai tepat waktu, lembur, dan hal lainnya.

Karena saya yakin job desk yang anda berikan pada karyawan anda itu sudah anda ukur sesuai dengan rata-rata karyawan yang ada. Artinya jika job desk itu terlalu lama dikerjakannya, maka dia sendiri yang menjadi penghambat bagi proses laju berkembangnya bisnis anda. Nah, inilah yang harus segera di rumahkan.

Saat Dia Tidak Mau Mengambil Inisiatif

Berlaku untuk semua skala bisnis ya. Baik mikro, menengah dan besar. Tapi sangat diharapkan bagi bisnis skala mikro yang bisanya punya karyawan kurang dari 50 orang dengan omset kurang dari 500 juta rupiah sebulan. Kenapa? Karyawan yang inisiatif berarti dia fleksibel. Tidak kaku dan mampu melihat kondisi untuk bisa memberikan uluran tangan pada bagian-bagian perusahaan yang membutuhkan bantuan tenaga dan pikiran.

Tentu hal ini juga diatur dalam SOP dan job desk. Karena saya juga menemui karyawan yang selalu berupaya inisiatif tapi selalu salah dalam bersikap. Job desknya belum selesai, melanggar SOP dan akhirnya bukan jadi memberikan bantuan tetapi malah memberikan beban pada karyawan lainnya. Inisiatif tidak perlu hebat-hebat. Cukup melihat bagian mana yang memang butuh bantuan. Semisal terkendala pada masalah packing dan pekerjaannya sudah selesai. Dari pada menunggu, dia bisa bertanya dan menawarkan bantuan.

Beberapa karyawan yang punya inisiatif dan tindakan yang benar, selalu saya coba pertahankan. Walaupun mungkin tidak cerdas, kerjaannya biasa saja, tapi mereka mampu bertahan dalam kondisi perusahaan tidak sedang dalam mendapatkan keuntungan. Karena bisnis tidak selalu soal untung kan? Pasti ada ruginya juga. Jadi, mari kita cek kembali status-status kinerja karyawan di kantor.

Tidak Mampu Menilai Beban Kerjanya Sendiri dan Cenderung Membantah

Ini sudah masuk dalam tingkat bahaya. Tidak jarang SOP dan job desk yang kita berikan ternyata timpang. Artinya ada karyawan yang memang mendapati porsi pekerjaan yang jumlahnya sedikit dibandingkan yang lain. Sehingga pekerjaannya cepat selesai atau malah terlalu cepat. Sedangkan dia tidak mampu menilainya sendiri dan memilih untuk bersantai di saat perusahaan anda sedang dalam keadaan sibuk-sibuknya. Ini harus diwaspadai.

Seperti poin kedua hanya saja lebih parah. Poin ini akan anda temui karyawan yang biasanya, “tong kosong nyaring bunyinya”. Dia mampu untuk bisa memberikan inisiatif tapi action-nya nihil. Jadi percuma saja. Apalagi nanti saat dia bersantai terus kita minta untuk membantu pada divisi lain, dia cenderung membantah, “itu bukan bagian saya Pak!” Kalau saya sih bulan selanjutnya sudah saya berhentikan.

Ingat, perusahaan sekelas apa pun juga tidak ada yang sempurna. Apalagi skala UMKM yang masih butuh pembelajaran mengenai beban kerja, SOP dan hal lainnya. Jika karyawan tidak mengerti hal ini, dia akan cenderung kaku dan membantah. Baik dalam bentuk protes, sikap keras dan juga lambat bertindak. Apalagi nanti juga dia hanya akan cari muka di depan ownernya dan bekerja rajin saat diawasi saja. Sedangkan di hadapan senior, manager dan supervisornya, dia akan bertindak sesukanya.

Kesimpulannya, jangan sampai anda salah mempertahankan karyawan. Karena jika salah, bisnis anda akan menuju kebangkrutan. Banyak istilahnya karyawan ini. Dari mulai toxic atau racun bagi karyawan lainnya atau juga sebagai penghambat. Kita tidak bisa juga memiliki karyawan dengan kualitas hebat semua, karena biaya akan mahal sekali. Tapi kita tetap bisa mempertahankan karyawan yang dengan sadar tahu tanggung jawabnya dan tahu bahwa dia bekerja bukan untuk dirinya sendiri. Tapi untuk kemajuan perusahaan anda.

Photo by Annie Spratt on Unsplash

(Visited 9 times, 1 visits today)

Apa Komentarmu?