Kapan Saat yang Tepat Untuk Resign?

Kapan Saat yang Tepat Untuk Resign?

Kalau ngomongin gimana sih harus dapat kerja, mungkin pembahasan ini juga tepat ya untuk dibaca. Kapan tepatnya kita harus resign dari kantor. Atau setidaknya, apa sih tanda-tanda bahwa kita memang sudah tidak lagi bisa lagi bekerja di tempat sekarang ini. Jika bingung mencari sumber bacaannya, anda bisa membaca dua artikel dari kompas dan dari strategi managemen. Dari kedua website tersebut dimana artikelnya akan menyebutkan beberapa tanda yang mirip saat kita merasa harus resign dengan segera.

Pertama jelas perihal gaji. Kedua perihal kita tidak bersemangat setiap berangkat pagi ke kantor. Ketiga perihal kita jadi sering komplain. Keempat perihal kita selalu mengalami stress. Kelima sering merasa sakit-sakitan. Dan masih banyak hal lainnya yang menjadi sebab kita harus segera resign.

Lalu berikutnya apa nih? Silahkan baca disana namun saya akan menambahkan apa yang tidak dibahas pada dua artikel tersebut. Tentu ini dari sudut pandang sebagai seorang yang ingin bekerja dan bertumbuh. Karena setiap orang berbeda-beda kasusnya.

SAAT RESIKO BERTUMBUH TIDAK BISA DITANGGUNG PERUSAHAAN

Hal ini terjadi jika kamu menjadi seorang manager. Resiko bertumbuh adalah resiko dimana ide kreatif yang kamu miliki kamu utarakan pada atasan. Lantas atasanmu men-ACC atau mengijinkan ide tersebut untuk dilaksanakan. Namun sayangnya tiba saatnya evaluasi. Idemu gagal total. Bahkan menyebabkan perusahaan mengalami kerugian hebat. Lalu bagaimana selanjutnya?

Perusahaan yang sedang bertumbuh semestinya memahami makna kegagalan sesungguhnya. Bukan karena produk tidak laku dipasaran. Bukan karena produk tidak bisa bersaing. Hampir lebih dari 50% bahwa gagalnya perusahaan memang disebabkan dari dalam. Dari tim, managemen, dan juga karyawan yang bekerja di dalamnya. Masalah timbul adalah bukan karena kerjanya tidak benar. Tapi evaluasi perusahaan terhadap inovasi-inovasi yang karyawan lakukan.

Setiap perusahaan selalu ingin punya karyawan dengan nilai A+. Artinya karyawan itu tidak sekedar bekerja. Tapi juga ikut memikirkan majunya perusahaan. Masalahnya adalah jika sudah ditekankan untuk berpikir demikian tapi karyawan selalu menjadi sasaran kemarahan, kegagalan akibat bertumbuh, dan kerugian di perusahaan maka jelas perusahaanlah yang bermasalah. Jika resiko bertumbuh ini selalu 100% bebannya diberikan pada karyawan, maka kedepannya dia tidak akan mau untuk berpikir inovasi lagi. Dia akan takut berpikri kreatif lantaran kreatifitas tidak selalu diuji benar dan sukses. Ide tidaklah bisa selalu menjadi hasil nyata yang cemerlang.

Jadi cek lagi ke dalam dirimu. Jika perusahaan nyatanya selalu menyalahkanmu tapi juga disatu sisi memintamu berpikir kreatif yasudah tinggalkan saja. Perusahaan itu tidak siap untuk tumbuh dan berkembang. Ingat, yang harus bangkit dari kegagalan bukan cuma manusia saja. Tapi organisasi perusahaan pun harus siap agar bisa bertumbuh. Kalau anda tidak mau resign, pikirkan lagi posisi diperusahaan dimana anda tidak harus menanggung beban kerja hingga 100% dari ide yang perusahaan minta pada anda. Minta dipindahkan.

TIDAK FLEKSIBEL DALAM INOVASI DAN INISIATIF KARYAWAN

Jujur dalam bekerja, kita akan menemukan karyawan yang sebenarnya selalu kreatif. Entah tentang cara kerjanya yang lebih efisien, atau memang dia mencoba hal baru agar pekerjaan jadi lebih produktif. Tidak jarang juga terkait dengan rekan-rekannya. Tapi dimata sebagian owner, manager, atasan atau siapa pun hal yang dilakukannya aneh dan menyimpang. Tidak mengherankan banyak perusahaan tidak fleksibel menghadapi hal ini. Akhirnya sedikit-sedikit teguran. Atau sedikit-sedikit dirumahkan.

Sebelum kena giliran, coba cek lagi cara kerjamu. Jika akhirnya terlalu kaku, harus didepan laptop atau komputer seharian, tidak boleh sedikit pun lengah terhadap pekerjaan, maka harus segera resign. Kenapa? Sebagian perusahaan melakukan pekerjaan tidak inovatif. Artinya pekerjaan yang dilakukannya adalah repetisi atau pengulangan. Bayangkan sudah banyak video seorang ibu-ibu mampu membungkus produk makanan ringan dengan cara cepat. Jika hal itu dilarang oleh usaha tempat dia bekerja, jelas ibu tersebut akan ngamuk.

Sama halnya dengan kita. Beberapa pekerjaan akan tampak hanya diulang-ulang. Sekedar memenuhi standar SOP atau KPI yang telah dirancang oleh perusahaan. Padahal bisa saja dari SOP tersebut karyawan mampu menyelesaikannya dalam waktu tempo lebih singkat. Kemudian dia menganggur. Harus seperti apa kalau begitu? Jika perusahaan memaksa untuk dia melakukan hal yang sama atau setidaknya tidak boleh beranjak dari kursi tempatnya duduk karena itu. Ya sudah, perusahaan sedang tidak bertumbuh. Tapi mengalami kemunduran.

Untuk itu jangan cepat-cepat menghakimi karyawan yang sering nonton Youtube pakai internet kantor. Sering membaca berita di kantor. Apalagi sering ngaji, sering sholat dhuha. Bisa jadi pekerjaannya memang telah selesai bahkan menjelang jam makan siang. Di cek saja. Jika benar, berikan tanggung jawab lebih. Jika tidak barulah ditegur. Kita pun begitu. Kalau dirasa kita tahu cara mengerjakan tugas lebih cepat tapi dilarang atasan padahal hasilnya sama, ya sudah itulah saatnya resign.

Dari kedua hal diatas, maka dipastikan bahwa kamu harus siap untuk resign. Kok cuma dua? Karena sisanya sudah banyak dibahas. Kedua hal diatas berhubungan erat dengan kualitas diri. Jika perusahaan menganggap bahwa kita boleh terus mengasah kualitas diri, maka jangan sampai kita sendiri takut untuk mencoba. Perusahaan tanpa toleransi saat karyawannya diminta memberikan ide, memberikan inovasi, jelas salah. Carilah perusahaan yang memang ingin kamu memberikan yang terbaik bagi mereka. Toh, hasil dari inovasi itu tidak ada yang tahu bagaimana nantinya kan?

Photo by rawpixel.com on Unsplash

(Visited 20 times, 1 visits today)

Apa Komentarmu?