Jangan Pernah Menyepelekan Pekerjaanmu!

Jangan Pernah Menyepelekan Pekerjaanmu!

Hari ini hari saat saya harus izin, tidak masuk seharian mengurus pajak kendaraan bermotor. Karena plat nomer sepeda motor luar kota, mau tidak mau stnk harus saya bawa keluar kota juga. Dari pada jatuh tempo dan semakin ribet ngurusinnya nanti. Belum juga detik-detik mendekati bulan puasa Ramadhan, keluar kota bisa bikin tambah melelahkan. Pengennya hati ini pergi untuk izin rehat sejenak malah diributkan dengan berbagai macam hal. Terutama urusan kantor.

Si bos mengabari, “kok gak masuk?” mungkin beliau lupa kali ya. Saya sudah ambil izin seminggu sebelumnya. Oke, tidak masalah. Nah, masalah lain malah muncul setelah saya bertanya untuk inisiatif biar hati si bos gak makin dongkol. “Mbak dan masnya masuk kan ya?” Dan apa jawaban si bos? “Mbaknya gak masuk! Gimana sih! Terus masnya ini masuk, tapi telat!” Sambil memberikan emot mengerikan menandakan dia sedang marah luar biasa pada saya. Lah kan saya juga bingung harus ngapain kan?

Anda Sudah Dewasa, Jadi Bertanggung Jawablah.

Sebagai pengingat untuk siapa pun yang baru memulai bekerja. Sudah berkali-kali saya mendapati karyawan tipe-tipe seperti ini. Masuk seenaknya, pulang sekenanya. Atau izin sesuka hatinya, atau malah gak izin (bolos) dengan segudang drama alasan yang siap dilancarkan.

Dalam bisnis memang yang sering bikin pusing itu bagian managemen karyawan. Jadi jangan kaget bagi kamu yang baru memulai merekrut karyawan, hal-hal semacam ini akan sering ditemui. Hanya saja, terlalu sering juga tidak baik. Sedangkan banyak yang membahas kalau turn over di perusahaan  itu murni kesalahan managemen karyawan. Waduh, kalau cara berpikirnya begini bisa gawat. Saya sempat menanyakan pada Bapak yang pernah bekerja di pabrik. Tahu apa jawaban Bapak saya? “Sama aja, di pabrik tempat bapak kerja dulu ya ada yang begitu. Ada yang kerjaannya sering izin. Adalah pasti.” Padahal pabrik tempat bapak saya bekerja itu sekelas multinasional. Sudah bukan perusahaan main-main dalam hal SOP, KPI dan gaji. Tapi ya, itu lagi. Selalu ada yang sesuka hati.

Perhatian-perhatian ya. Hehe, agar tidak ikut-ikutan juga. Mau perusahaan tempatmu bekerja baru seumur jagung atau sudah puluhan tahun ya sebisa mungkin tidak begitu. Bertanggung jawab agar tidak merepotkan pihak-pihak lainnya juga. Jangan sampai kita malah mendapatkan predikat buruk di tempat kerja. Atau malah mendapatkan cap karyawan tidak patut diperhitungkan nantinya. Sudah dewasa, sudah bukan lagi lulusan SMA jadi harus terus belajar untuk bersikap mentaati aturan.

Attitude Mencerminkan Kenaikan Gaji dan Pangkat!

Ini benar. Kok bisa? Tentu bisa. Soalnya kenaikan pangkat ditandai tidak cuma dengan tingkat seorang karyawan mampu menyelesaikan tugasnya dengan baik. Tapi juga gimana soal kerja sama tim. Oke, kalau kerja sama tim saja sudah baik apa lagi? Attitude! Di Indonesia ini sering diungkapkan sebagai sikap. Dari bertanggung jawab tidaknya, tepat waktu atau suka molor, suka gossip atau fokus kerja, suka memberikan ide dengan action atau cuma banyak omong, semua akan dinilai.

Penilaian ini adalah penilaian tahunan. Artinya tidak bisa dinilai cuma sebulan dua bulan saja. Karena pihak managemen, bos, atasan kamu akan mengecek berulang kali untuk mengangkat seseorang menjadi berada di satu meja dengan mereka. Penilaian ini harus sangat objektif. Kalau tidak, akan berimbas langsung maupun tidak langsung pada kinerja perusahaan. Bahkan pengangkatan seseorang yang salah bisa berdampak pada masalah kecil dan melebar kemana-mana. Tidak heran juga ada perusahaan jadi bangkrut dan gagal berkembang karena mengalami masalah ini.

Tahunan yang perlu diperhatikan. Karena selalu ada pengangkatan jabatan secara adil. Tidak mengherankan usianya sudah sangat tua dan harusnya bisa menjadi manager tapi tidak juga diangkat. Apakah kalah dengan yang muda? Belum tentu. Bisa saja sikapnya baik sekali. Tapi itu cuma sekedar bersosial saja. Tapi saat berhadapan dengan tugas-tugas dari perusahaan, dia sama sekali tidak kooperatif. Jadi jangan sampai ya, attitude kita buruk dan berimbas pada sulitnya kita mendapatkan kenaikan pangkat dan gaji.

Hati-hati Untuk Tidak Menjadi Egois dan Benar Sendiri!

“Dari pada kerja di sini, mending kita kerja di tempat lain aja yang lebih baik!” Selalu ada hal seperti ini. Harus diwaspadai karena ini sangat erat dengan pepatah lama. “Rumput tetangga sudah pasti lebih hijau dari rumput sendiri.”

Boleh kok untuk mengeluh dan akhirnya memutuskan hengkang dari perusahaan yang dirasa tidak adil. Tapi tidak harus egois. Ada nilai dan faktor objektif yang bisa diukur. Bahkan jika ukuran itu sudah tepat pun, tidak serta merta harus terus diiyakan dan ditindaklanjuti. Seperti halnya prinsip bersabar. Saya pernah mendengar langsung begini.

Saat saya ikut acara seminar kecil-kecilan yang dihadiri oleh para manager dari berbagai perusahaan dan tentu tidak sebatas itu, ada owner juga yang ikut hadir dan datang, ada seorang owner yang pernah ikut juga merintis usaha dari perusahaan yang sedang mengadakan seminar. Saya membatin. Kenapa dia bisa keluar ya? Padahal perusahaan yang dirintisnya dulu sekarang mampu menghasilkan omset milyaran rupiah. Saya berpikir positif tentunya. Mungkin bukan takdirnya saja harus bersama-sama membangun bisnis yang sama. Tapi dalam pertanyaan yang diajukan, dirinya masih merasa kalau dia sulit membangun tim bisnisnya sendiri. Bagi saya, jika dihadapi dengan kenyataan itu, lebih baik untuk tetap berada di perusahaannya semula. Karena rizki tidak ada yang tahu walau tepat persis rencana bisnis telah dibuat loh. Kalau dia bisa lebih lama sebentar, mungkin dia akan jadi salah satu pembicara di perusahaan tempat dia kunjungi sekarang.

Sekali lagi berhati-hati dalam rasa ego diri. Saya juga merasakannya kok. Pernah hengkang dari perusahaan yang nyatanya sekarang malah sukses perusahaan itu. Dan ini lucu. Apalagi kalau kamu lagi bekerja di perusahaan seperti StartUp atau UMKM. Karena kalau kamu mau terus berusaha dan bersabar, bisa jadi kamu adalah orang andalan perusahaan di beberapa tahun ke depan. Jadi kenapa tidak berusaha untuk bekerja giat?

Kesimpulannya, jangan menyepelekan pekerjaanmu, entah apa pun itu posisimu sekarang, entah apa pun perusahaanmu sekarang, skalanya, besar atau kecil, gajinya, banyak atau sedikit. Karena roda kehidupan terus berutar dan yakin saja, kalau berusaha dengan baik dan benar, kamu akan mendapatkan hasilnya.

Photo by Dillon Shook on Unsplash

(Visited 7 times, 1 visits today)

Apa Komentarmu?