Gunakan 3 Jenis Pertanyaan Ini Untuk Mensukseskanmu!

Gunakan 3 Jenis Pertanyaan Ini Untuk Mensukseskanmu!

Banyak dari kita terutama sebenarnya hampir 100% kita selalu mendapatkan sistem pembelajaran yang salah. Cara kita belajar hanyalah untuk mendapatkan pengetahuan dan hadiah berupa nilai-nilai diatas kertas. Tidak benar-benar bisa aktual dan nyata berfungsi untuk kehidupan kita. Sering kali akhirnya kita sendiri merasa tidak berdaya menghadapi berbagai macam tuntutan zaman. Kalah dengan negara lainnya yang dikatakan negara maju. Karena mereka memang tidak berbasis pada angka dan nilai seperti pada ujian. Tapi bukti nyata yang bisa bermanfaat bagi mereka.

Apa hasilnya? Kita sering kali “mlempem” jika menghadapi pertanyaan-pertanyaan. Atau paling tidak, kita sendiri tidak bersemangat untuk bertanya lebih lanjut perihal suatu jawaban. Sehingga tidak mengherankan jika kita menjadi orang-orang yang cepat sekali puas dengan apa yang telah diberikan. Kita puas dengan nilai matematika yang mendapat nilai 6.0 misalnya. Dengan alasan agar tidak mendapat hukuman lebih baik daripada dihukum. Atau mendapat nilai 7.0 misalnya dan tidak mempertanyakan hal-hal yang bisa membuat belajar kita lebih serius, jawaban kita bisa lebih baik, dengan alasan, sudah lumayan dapat 7.0 daripada dapat 6.0. Begitu seterusnya.

Padahal menurut Andreas Von Der Heydt, proses, inovasi, dan sukses itu sangat berpengaruh satu dengan lainnya dan hanya bisa dicapai dengan terus menerus menanyakan sesuatu untuk mendapatkan jawaban tertentu. Dalam slide yang ditampilkan Andreas ada 6 jenis pertanyaan agar kita bisa menjadi lebih sukses. Tapi saya akan menampilkan 3 saja disertai contoh yang cocok di Indonesia ya. Sisanya bisa anda baca di SlideShare.

KENAPA SIH?

Pertanyaan menyentil yang jarang dipakai itu adalah KENAPA. Banyak orang menghindari awal pertanyaan itu dikarenakan pada saat sekolah, pertanyaan ini akan menghasilkan jawaban esai. Jawaban yang memakan waktu untuk menjelaskannya. Sehingga banyak orang suka dengan jawaban singkat dan padat. Bahkan juga pilihan ganda. Jawaban esai dihindari sekali, selain buang-buang waktu juga belum tentu benar.

Menurut Andreas, pertanyaan KENAPA ini mampu membuat seseorang menjadi lebih banyak berpikir. Terutama berpikir bahwa hal itu untuk menemukan jawaban yang bersifat sangat idealis. Cocok untuk anda yang ingin menjadi lebih kreatif, mencari solusi yang lebih benar, dan juga mendapati jawaban yang lebih kokoh. Contohnya seperti berikut,

  • Kenapa aku melakukan hal tersebut?
  • Kenapa mereka lebih suka beli di toko A daripada toko B, padahal barang yang dijual sama?
  • Kenapa kita harus menjual produk ini?
  • Kenapa saya harus bekerja di perusahaan ini?

Paham kan? Oke, sekarang, coba buat daftar pertanyaan KENAPA untuk dirimu sendiri. Lalu jawablah dengan mendalam, merenung, agar nantinya muncul solusi yang lebih mencerahkan.

KENAPA TIDAK?

Jenis pertanyaan ini sebenarnya lebih dari sekedar pertanyaan menantang. Semisal nih, “kenapa sih kamu mau pacaran sama dia?” lalu anda jawab, “kenapa tidak?”

Karena anda akan punya ribuan alasan untuk segera membuktikannya kan? Itulah pertanyaan KENAPA TIDAK ini dianggap oleh Andreas merupakan mendalaman dari pertanyaan yang pertama. Setidaknya jika ragu-ragu itu muncul dalam pikiran anda, maka segerakan usir dengan jenis pertanyaan ini.

Pertanyaan ini juga sebagai pengukuhan atau agar niat kita, tekad kita menjadi lebih kokoh. Langsung pada contoh pertanyaan jenis ini ya,

  • Kenapa tidak? Toh kita juga sama-sama jualan kan? Walaupun yang kita jual produk yang berbeda.
  • Kenapa saya harus mendaftar di lowongan pekerjaan ini dibandingkan lowongan pekerjaan lain yang sebenarnya juga saya bisa?
  • Kenapa saya harus memilih menjadi seorang karyawan daripada seorang pebisnis?

Paham ya, beberapa orang sukses bahkan menggunakan tipe lebih dalam dari pertanyaan KENAPA ini agar mereka juga lebih yakin untuk segera mencari solusi atas permasalahan yang mereka hadapi.

BAGAIMANA JIKA DAN BAGAIMANA JIKA TIDAK

Terakhir, bukan tentang KENAPA lagi, tetapi jauh lebih dalam yaitu BAGAIMANA JIKA. Pertanyaan ini sebenarnya adalah pertanyaan agar kita bisa memilih satu diantara dua jawaban. Setidaknya membuat apa yang kita pikirkan tidak sekedar menjadi ide-ide semata. Tapi juga menjadi kenyataan dengan mewujudkannya. Jenis pertanyaan ini lebih praktis untuk kita menemukan dan mencari solusi. Berikut contohnya,

  • Bagaimana jika saya mencoba berbinis seperti Gojek dan Uber?
  • Bagaimana jika saya memilih jualan baju bola online atau jualan jilbab online? Mana yang lebih baik?
  • Bagaimana jika di usia saya yang sudah lewat 25 tahun belum juga mendapatkan pekerjaan?

Selain itu juga tersedia jenis pertanyaan sebaliknya yaitu, BAGAIMANA JIKA TIDAK.  Contohnya seperti berikut ini.

  • Bagaimana jika tidak dikerjakan sekarang tentang yang sudah diperintahkan oleh atasan?
  • Bagaimana jika saya tidak menjalankan bisnis dan lebih memilih bekerja di perusahaan?
  • Bagaimana jika saya tidak segera menikah di usia mendekati 30 tahun?

Buatlah daftar-daftar tentang hal yang masih tertunda atau menjadi keraguan anda dengan ketiga pertanyaan diatas. Maka dipastikan anda sendiri akan mencoba berpikir kreatif dan segera bertindak untuk mencari dan menemukan solusinya. Sisa pertanyaan lainnya ada? Tentu yaitu APA LAGI, BAGAIMANA, dan KAPAN. Ketiga sisa pertanyaan tersebut bisa kamu baca langsung di slideshare ya. Agar lebih paham. Selamat mencoba dan semakin mendekatkan diri anda dengan kesuksesan yang anda inginkan.

Picture: SlideShare

(Visited 29 times, 1 visits today)

Apa Komentarmu?