Gary Vaynerchuk Mengajakmu Sukses dengan Branding

Gary Vaynerchuk Mengajakmu Sukses dengan Branding

“Mau sejauh apa bisnismu bertahan?” Jika pertanyaan itu hadir anda sekarang, apa jawabannya? Hampir dipastikan 100% akan menjawab, “selama mungkin.” Lantas benarkah saat ini kita telah melakukan hal yang benar tentang berbisnis dan menjual?

Gary Vaynerchuk seorang pebisnis yang sangat sukses bahkan telah menjual 4 buku best-seller, pembicara internasional, bahkan langkah fenomenal darinya adalah mampu mendongkrak bisnis keluarganya yaitu bisnis wine (minuman anggur beralkohol) dari $3 juta sampai $ 60 juta dikenal dengan WineLibrary. Bahkan Gary sendiri merupakan investor untuk perusahaan keren yang kita kenal sekarang yaitu Uber, Snapchat, Tumblr, dan masih banyak lagi.  Mengajarkan hal sangat penting tentang penjualan.

Apa itu?

BRANDING!

The reality is, the greatest companies in the world don’t sell. They brand.

Hal tersebut saya baca di MEDIUM yang sangat menggugah dan hal penting sekali bagi anda yang benar-benar membangun bisnis jangka sangat panjang. Bukan lagi hitungan 5-10 tahun. Tapi sampai 50 tahun ke depan.

INGIN MUDAH DILUPAKAN? JANGAN BRANDING!

Apa yang ada di benak anda mengenai Facebook? Ya, apalagi kalau bukan soal Mark Zukerberg. Oke, tidak perlu jauh-jauh. Apa yang ada di pikiran anda tentang Andrew Darwis? Ya, pasti Kaskus. Jika anda bisa melihat jauh ke belakang, dulunya baik Facebook maupun Kaskus hanyalah sekedar forum biasa. Benar-benar biasa. Facebook hanya untuk ajang saling berkomunikasi teman sesama kampus Mark, begitu juga dengan Kaskus. Fakta pentingnya adalah mereka TIDAK BURU-BURU JUALAN!

Bingung gak? Zaman sekarang, kalau kita tidak jualan ya mau bagaimana caranya makan? Dulu walaupun Facebook sudah sangat besar dan mendunia di tahun 2008, fitur Facebook Ads belum dikembangkan. Benar-benar belum masuk pasar saham. Bayangkan coba padahal semestinya dari tahun itu saja benar-benar bisa sukses loh dan meraup untung besar. Tapi Mark benar-benar melakukan BRANDING! Meyakinkan diri bahwa Facebook bisa memenangkan persaingan antar sosial media yang ada. Kalau tidak salah lawannya waktu itu adalah Twitter.

Apa efek branding? Gary sendiri menjelaskan bahwa dirinya membangun untuk jangka panjang. Karena yang dia pikirkan dan dia tuju adalah soal BRAND. Sehingga membedakan dirinya dengan kita yang sering sekali cepat menjual tanpa membangun brand dan dilupakan. Dirinya membangun kepercayaan dengan memberikan semua konten miliknya secara gratis di internet dan setiap tiga tahun sekali dia menuliskan buku dan menanyakan pada penggemarnya jika tertarik untuk membelinya. Sehingga dia menyimpulkan bahwa perbedaan branding dan selling itu mudah dijabarkan. Apakah kita ingin mencoba menjual atau ingin mencoba menciptakan pengalaman bagi orang lain. Jawaban terakhirlah yang menang.

SAMPAI MANA TARGET BRANDINGMU?

Apakah branding sulit? Jawabannya? Tidak!

Intinya adalah seberapa jauh dan lama brandingmu tersebut. Coba ingat-ingat nama toko kelontong di dekat rumahmu saat anda masih anak-anak. Pasti nama toko kelontong itu menggunakan nama pemiliknya kan? Semisal, Toko Samuji, Toko Mak Ipah, dan lainnya. Itulah branding sederhana. Namun jangkauannya juga sederhana. Yaitu sekitar toko tersebut atau jika ada yang lewat dan mampir untuk beli. Tapi bayangkan jika toko itu bertahan sampai kita dewasa. Bahkan walaupun toko itu bangkrut, tetap saja kita mengingat nama toko kelontong itu.

Jika memang anda ingin produk anda dikenal se-Indonesia, sudah jelas harusnya, branding yang anda lakukan cukup sering, cukup lama, cukup masif. Kaskus sangat lama agar bisa dikenal di Indonesia semenjak dibawa pulang dari Amerika oleh Andrew. Facebook juga cukup lama harus membuka diri pada para investor karena anak muda masih belum bisa lepas dari Friendster dan terus mengukuhkan identitasnya melawan Twitter. Begitu juga dengan Brand seperti KFC, Pizza Hut, Nike, Puma, semua punya jalan panjang yang tidak sebentar. Ya, mereka memang jualan, tapi ada branding yang harus mereka lakukan hingga sekarang.

Artinya, jika sudah tertanam di benak orang-orang, maka dengan sendirinya branding akan bekerja menjadi selling. Bahkan bayangkan seberapa sering kita menonton di televisi iklan Pizza hut dan KFC? Tidak banyak kan? Ada, tapi apakah cukup sering? Saya beri contoh mereka yang tergesa-gesa dengan selling. Coba ketikkan saja keyword “nasib rumah makan wong solo” dan “nasib tela-tela”.

Kedua bisnis kuliner tersebut pernah jaya di zamannya. Bahkan rumah makan wong solo merupakan rumah makan paling diminati di pulau Jawa. Bahkan sampai ke Kalimantan juga. Begitu juga dengan makanan ringan tela-tela. Namun sekarang? Bisakah anda menemukan mereka atau setidaknya mendengar nama mereka? Di Jogjakarta saja sekarang nama rumah makan wong solo sudah tergerus oleh Warung Spesial Sambal dan Waroeng Steak. Belum lagi dengan rumah makan keren dan modern lainnya. Tela-tela pun demikian. Setelah Maicih, saya tidak mendengar lagi jenis Franchise ini digemari. Terakhir ada kebab namun ya lagi-lagi namanya tidak benar-benar menancap di benak masyarakat.

“Tapi mas, rumah makan wong solo sukses kok di negeri seberang, begitu juga dengan kebab, salah data nih.” Oke, itu benar. Saya mungkin salah. Tapi yang kita bicarakan tentang branding. Tentu saya pun menyelidiki kan ya, karena branding yang baik hasilnya pasti baik. Kalau bisnis kuliner brandingnya baik, tentu tidak banyak komentar negatif dari konsumennya. Nyatanya tidak begitu.

“Berarti branding sulit dong?” Ada caranya terutama mempertahankan cita rasa dan pelayanan. Di Jogjakarta misalnya terkenal dengan bakpia dan gudeg. Mau siapa pun yang buat, branding Jogjakarta soal bakpia dan gudeg sudah jadi legenda. Jadi orang belum pernah makan gudeg dan bakpia pasti ke Jogjakarta, walaupun dijual juga di daerah lain.

Biasanya selling tergesa-gesa, ingin segera omset milayaran menjadi senjata makan tuannya. Itulah yang bsia kita amati secara awam di bisnis yang belum sempat menancapkan brandingnya keburu bangkrut. Kecuali memang bisa mempertahankan kualitas dan pelayanannnya seperti Pizza Hut dan KFC. Itu dari bisnis kuliner saja. Contoh lain sebagai penutup nih.

Tahu Pak Bondan Mak Nyus kan? Branding beliau di televisi yang memang acaranya makan-makan melulu membuahkan hasil yang gemilang. Sampai orang pun penasaran Pak Bondan kalau mau buka bisnis, dia bisnis apa seh? Nyatanya jatuh ke bisnis Kafe Kopi. Tidak tergesa-gesa buka cabang, karena kualitas harus diutamakan. Jujur, saya di Jogjakarta baru tahun 2016-2017 terasa geliatnya Kopi Tiam Oey. Sampai-sampai kalau ada yang nanya, “kopi tiam ini punya pak bondan ya?” padahal kafe kopi tiam itu buanyak yang punya. Tidak cuma Pak Bondan saja. Tapi itulah branding. Pak Bondan berhasil dengan brandingnya, semua orang pecinta kopi pasti langsung merujuk beliau kalau dengar kata “Kopi Tiam”. Selesai.

Sekarang, tinggal anda menentukan sendiri sejauh apa bisnis anda bertahan, sejauh apa bisnis anda jangkauannya. Semakin luas dan semakin kokoh, maka branding harus mulai digarap. Oia, Wardah kosmetik sampai sekarang masih branding loh. Cek ke video clip musik milik Isyana, Raisa, atau Tulus. Pasti ada deh logo dari Wardah.

(Visited 21 times, 1 visits today)
Silahkan

Apa Komentarmu?