etika melamar kerja yang baik

Etika Melamar Kerja yang Baik Khusus Proses Wawancara

Wawancara adalah proses yang mana sangat krusial dan bisa menjadi penentu paling utama untuk bisa melanjutkan bekerja di suatu perusahaan. Hanya saja, pelamar pun biasanya tidak tahu proses wawancara ini termasuk proses tes tahap berapa. Tidak semua perusahaan memberikan tes lowongan pekerjaan itu panjang. Seperti,

  1. Tes administrasi atau tes berkas
  2. Tes tulis, psikotes, dll
  3. Tes wawancara HRD
  4. Tes wawancara USER
  5. Tes Kesehatan

Nah, tidak semua perusahaan seperti itu. Iya, kalau perusahaan itu sudah skala nasional atau internasional mungkin begitu. Kadang ada yang malah cuma begini,

  1. Tes administrasi
  2. Tes tulis
  3. Tes wawancara
  4. Sudah

Bingung kan? Untuk itu ada pola yang sama yang harus diperhatikan bagi pelamar kerja agar etika melamar kerjanya baik. Sebelum nanti masuk daftar ms. exel HRD dan mendapat cap “Tidak Punya Etika”.

Tes Wawancara Itu Sudah 50% Atau Setengah Perjalanan

Tidak semua orang bisa sampai tes ini. Jujur. Karena di tes wawancara ini semua bisa berbalik 180 derajat. Dari basa-basi ringan, menanyakan background, kemampuan, minat, sampai pada taraf pertanyaan seputar gaji.

Saya ada pengalaman menarik yang kurang menyenangkan. Seorang pelamar kerja berhasil sampai tahap tes wawancara kerja. Bahkan dengan tawaran gaji yang diberikan, dirinya tidak menerima. Terjadilah negosiasi gaji. Pihak HRD akhirnya menyanggupi gaji yang diminta oleh pelamar kerja. Lalu memintanya untuk bisa datang di hari senin agar mulai bekerja atau mengikuti training. Alhasil?

Hari senin tepat 5 menit sebelum masuk kantor, pelamar itu mengundurkan diri. Ingin rasanya marah dan maki-maki. Pihak HRD mencoba menelpon tapi tidak diangkat. Lalu akhirnya pihak HRD memberikan pesan singkat pada si pelamar. “Mas kalau tidak niat bekerja, harusnya anda tidak perlu melamar!”

Pelamar itu pun di blacklist. Ini kejadian nyata dan berulang.

Lalu bagaimana etika melamar kerja yang baik? Seharusnya dalam sesi wawancara, semua sudah ditanyakan tuntas oleh si pelamar. Soal gaji, fasilitas, semuanya. Tanpa perlu masuk dalam taraf nego gaji dan janji akan bekerja. Sehingga setelah pulang tepat persis selesai wawancara, pelamar bisa segera memberikan pesan pada pihak perusahaan. “Pak/Bu, maaf setelah mempertimbangkan, saya tidak jadi melanjutkannya. Mohon maaf sebelumnya.” Ini lebih baik dari pada kabur tepat saat hari pertama bekerja.

Bahkan dalam sesi wawancara, pelamar kalau tidak setuju juga bisa langsung mengungkapkan apa hal yang menjadi keberatannya. Perusahaan atau pihak HRD akan menimbang untuk kemungkinan nego. Jika tidak terjadi ya sudah. Ini juga jauh lebih baik. Sehingga pihak perusahaan bisa segera mencari pengganti tanpa diberikan ketidak pastian.

Ingat, 50% dari jalan berhasilnya diterima kerja itu dari wawancara. Penentunya disitu. Karena pihak HRD akan menilai dan memberikan argumen pada pihak owner atau atasan yang menjabat lebih tinggi untuk bisa pelamar diprioritaskan untuk dipekerjakan.

Suka-suka Gue Dong! Gue yang nyari kerja!

Hati-hati sekali ya agar tidak terjebak rasa egois seperti ini. Di Jogjakarta, sudah sangat umum jika para owner perusahaan kenal satu sama lain. Nah loh. Tes administrasi atau berkas yang akan memperlihatkannya. Pernah bekerja dimana, perusahaan apa, berapa lama, maka perusahaan baru akan tahu. Biasanya juga akan paham dan berkata seperti ini. “Loh, ini bukannya karyawannya Pak A ya? Kok malah daftar disini?” Ini sering terjadi.

Jaringan para owner inilah yang harus lebih dipahami oleh para pelamar kerja. Karena pihak owner jika sudah meloloskan sampai tahap akhir, mereka akan melakukan kroscek ulang ke perusahaan tempat kerjanya yang dulu. Di perusahaan besar mungkin jarang terjadi atau malah sudah sangat tahu dari psikologi pelamar kerja. Kalau buruk tabiatnya akan terlihat, akan ada desas-desus atau kasus yang bisa sampai ke telinga para owner.

Apalagi berita tidak menyenangkan tentang etika melamar yang tidak baik seperti ini. Lebih baik segera dihindari.

Anda adalah pemegang kendali hidup Anda sendiri!

Itulah alasan Anda harus bisa memilih. Perusahaan A atau B nih yang harus Anda datangi untuk sesi wawancara? Jangan plin plan. “Ah, ntar deh pas wawancara cek dulu gaji dan lain-lain.” Duh, ini yang kurang menyenangkan. Dari nama perusahaan, logo, tempat lokasi tes, tempat kerja semua bisa dilihat kok perusahaan itu masuk skala apa. Skala nasional? Skala lokal? Skala baru memulai? Semua bisa dirasakan pada saat tes pertama kali yaitu tes tulis.

Kalau sudah tidak sreg atau tidak cocok ya tidak perlu serius mengerjakan tes tulis. Daripada dipanggil wawancara malah menjadi awal munculnya etika melamar kerja yang kurang baik.

“Emang beneran di blacklist?”

Kalau Saya iya. Kenapa? Karena yang nyari kerja banyak sekali. Masih banyak yang bisa membuktikan kalau etikanya bagus dan butuh kesempatan untuk menunjukkan dirinya. Daripada harus bertemu lagi dengan orang yang sama yang sudah tahu kalau etikanya buruk. Ini logika sederhananya. Fakta dilapangannya memang tidak selalu begitu. Tapi paling tidak jika seorang pelamar diterima dan diketahui dia punya etika buruk sebelumnya, maka akan terus diawasi oleh pihak HRD.

Oke? Ini sekedar informasi dan nasihat untuk Anda yang baru lulus sekolah atau kuliah ya. Ini fakta dan nyata, saya mengalaminya sendiri. Namanya juga dunia kerja, hal ini pasti terjadi. Disini tidak ada kok tips lolos wawancara kerja. Karena wawancara kerja yang sukses ya saat Anda sebagai pelamar menunjukkan pengalaman, bakat dan antusias di depan HRD hanya dengan cara komunikasi.

Photo by Faustin Tuyambaze on Unsplash

(Visited 186 times, 1 visits today)

Apa Komentarmu?