Berubah atau Mati Adalah Pilihan yang Sama-sama Sulit

Berubah atau Mati Adalah Pilihan yang Sama-sama Sulit

Membaca berita tentang bisnis yaitu bangkrut dan berakhirnya bisnis Nyonya Mener memang bikin pilu. Bayangkan saja perusahaan jamu tradisional yang merupakan warisan sejarah Indonesia berdiri sejak tahun 1919 itu akhirnya ditutup juga. Pasalnya satu, terlilit hutang yang luar biasa. Anda juga bisa membacanya di detik. Ulasan dari Profesor Rhenald Kasali bahwa perusahaan Nyonya Mener bergerak dan bertahan karena adanya hutang. Ternyata malah menghancurkan diri sendiri. Bahkan sampai ada faktor konflik keluarga tapi yang terpenting adalah inovasi yang kurang.

Sedih karena inovasi yang tidak segera dikerjakan akan benar-benar membuat layaknya pisau bermata dua. Seakan-akan bisnis berjalan walau terseok-seok, tapi sebenarnya sedang menunggu kehancurannya. Mau bagaimana lagi, sudah seperti itu adanya. Inovasi tidak bisa diwariskan ke anak cucu. Karena inovasi berkaitan dengan daya kreatif. Dan kreatifitas itu juga berdampak pada dua pilihan sulit yaitu,

BERUBAH atau MATI.

Jadi mau bagaimana? Jawaban yang paling harus diambil adalah berubah itu sendiri.

ANAK MILENIAL TIDAK KENAL JAMU

Jujur, seberapa sering anda mendengar kata jamu? Jika anda lahir di tahun 80-90 maka anda pasti mengenal kata jamu. Begitu juga antara tahun 90-97. Tapi setelahnya yaitu 98 sampai sekarang, anak-anak tidak mengenal jamu. Apa sih manfaatnya saja kita tidak banyak yang tahu. Banyak akhirnya yang menjawab jamu itu ya obat. Padahal jamu bisa banyak ragamnya seperti halnya yang kita temui pada produk sekarang ini. Seperti produk minuman berenergi juga termasuk jamu loh. Minuman kesehatan layaknya vitamin juga jamu. Bahkan di beberapa negara maju seperti Korea Selatan dan Jepang, jamu mereka juga masih ada. Dikenal dengan minuman ginseng atau ekstrak herbal yang menyehatkan.

Sayangnya di Indonesia tidak sepopuler di negara maju tersebut. Bukan karena anak mudanya yang tidak tanggap. Tetapi memang tidak menyegerakan untuk berinovasi agar lebih dikenal. Riset semestinya dilakukan, anak jaman sekarang ini sukanya minuman merek apa sih? Lalu amati tiru dan modifikasi. Dengan merek yang lebih disukai anak muda, desain yang lebih disukai anak muda. Bahkan sekarang ini, banyak kalangan anak muda yang mengedepankan hidup sehat ketimbang mengkonsumsi yang serba instan. Sayangnya tidak begitu diperhatikan segmen pasar seperti ini. Akhirnya, jamu ya jamu. Minuman bapak dan ibu kita dulu. Titik.

KALAH BERSAING DENGAN SIDO MUNCUL

Ya, banyak komentar di detik yang menjelaskan hal ini. Sido Muncul adalah produk jamu juga. Tapi berhasil bertahan karena inovasi. Produk Sido Muncul yang paling digemari adalah minuman berenergi. Menargetkan konsumen kalangan menengah ke bawah yang tepat sasaran. Dengan endorse beberapa artis papan atas Indonesia dan bergerak terus maju. Inovasinya tidak hanya pada produk tapi juga segmen marketingnya. Sekali lagi, Sido Muncul berhasil menyelamatkan diri dari gempuran para pesaing yang juga tidak kalah modern.

Nyonya Mener tidak berhasil berinovasi. Coba cek produk Nyonya Mener melalui internet. Desainnya saja sudah sangat kuno. Sebagai anak muda saya pun merasa tidak tertarik untuk membeli. Walaupun mungkin khasiatnya mirip-mirip dengan produk Sido Muncul. Tapi mau bagaimana lagi. Inovasi marketing tidak berjalan. Tetap mempertahankan desain yang laku di era tahun 1900an. Sudah puluhan tahun berlalu maka tidak harus berlena diri. Akhirnya tidak ada lagi jaminan hidup kaya raya dan bersantai. Sampai anak cucu pun kalau ingin berhasil, harus terus berinovasi. Mau tidak mau. Suka tidak suka. Sulit tidak sulit.

LEBIH AKRAB DENGAN PERUBAHAN

Perubahan itu jelas sulit loh. Coba saja produk yang anda jual sekarang, berubah menjadi harus laris secara online. Atau pun sebaliknya. Tidak melulu sukses dengan online tapi juga harus punya toko. Beberapa metode peralihan atau perubahan memang bikin kita gerah. Sama halnya seperti karyawan yang sudah berprestasi sekalipun, saat diminta untuk melakukan hal baru, menolaknya luar biasa. Padahal untuk kebaikan dirinya karena nanti perusahaan tetap akan mencari karyawan baru yang lebih modern jika dia tidak mau berubah.

Perubahan dekat dengan zona nyaman. Jika seseorang sudah merasa aman, tentu dia tidak akan mencari yang tidak aman. Masalahnya, zaman berubah. Apple perusahaan mendiang Steve Jobs juga kalau cuma bangga di iPod dan tidak segera menyasar pasar ponsel, mereka pasti akan gulung tikar. Samsung juga kalau sampai detik ini tidak meluncurkan produk baru, tentu sudah digerus oleh Oppo dan Xiaomi. Perubahan dan inovasi adalah zona tidak nyaman. Siapa pun yang berada di zona tidak nyaman butuh kerja keras. Jika tidak, ya inovasi bisa saja gagal. Nokia akhirnya gagal berinovasi. Iklan terbaru soal handphone sekali pun masih juga dengan bentuk yang kuno. Namun perubahan sendiri tidak menakutkan karena jika kita lakukan, kita akan bisa bertahan.

Picture: boboartandcurios

(Visited 309 times, 1 visits today)

Apa Komentarmu?