5 Kesalahan Pemula Memulai Pekerjaan

5 Kesalahan Pemula Memulai Pekerjaan

Setelah terdampar sekali lagi di google, saya sedikit kecewa. Dengan kata kunci “5 kesalahan pemulai memulai pekerjaan” seperti pada judul artikel ini, tidak saya temukan ulasan terkait. Setidaknya saya sudah sampai halaman 5 di google. Kenapa tidak dilanjutkan? Sampai halaman 10 mungkin? Karena saya memposisikan diri sebagai seorang yang mencari sumber ilmu di google. Jarang sekali ada user atau orang yang mengorek-ngorek google lebih dari halaman 5.

Terus nemunya apa? Saya malah banyak nemu, “kesalahan pemula memulai bisnis online”. Duh. Bener sih, kita masih kekurangan pebisnis di Indonesia. Artinya masih banyak yang cari kerja. Tapi kasihan juga yang cari kerja. Ingin menjadi keren, berprestasi, tapi minim sumber ulasan di google. Ya sudah, saya coba buat agar Anda juga merasa yakin apakah kesalahan-kesalahan ini masih sering Anda lakukan atau tidak di tempat kerja.

Melupakan Pentingnya Mencatat

Saya baca di intisari, artikel lawas. Bahkan sudah sejak tahun 2015. Dijabarkan beberapa kesalahan pemula di tempat kerja yang sebenarnya bukan karena kesalahan dalam bertindak. Tapi kesalahan pada sikap dan kebiasaan dan bawaan sebelum masuk kantor. Ada benarnya, tapi masih perlu diulas lagi. Oke, saya akan bahas yang ini ya. Yaitu melupakan pentingnya mencatat.

Dalam masa training, lalu meeting, kita dituntut tidak sekedar untuk bisa mengutarakan pendapat. Tapi juga mencatat. Banyak karyawan baru dengan santai melupakan tugasnya mencatat. Mencatat ini bukan sekedar memo. Ada tugas dari atasan, lalu dicatat di memo dan di tempel di dekat layar komputer. Bukan cuma itu. Lebih pada mencatat apa sih ilmu yang bisa diambil setelah mengamati?

Saya selalu menemukan, seorang karyawan harus berulang kali diingatkan oleh atasan. “Mas sudah dikerjakan?” Lalu dijawab, “oh, iya Pak, sudah.” Pas dicek. Ternyata belum. Kok bisa?

Manusia biasanya overload dalam menyerap informasi. Manusia tempatnya lupa juga. Fungsi dari mencatat adalah mencegah hal itu terjadi. Dengan catatan maka kita bisa melihat kembali apa yang sudah dikerjakan apa yang belum. Mana yang baru 50% selesai mana yang sudah sampai 90% selesai.

Mencatat tidak selalu dengan buku. Catat di notepad di komputer, ms word, itu juga bisa kan? Karyawan pemula dianggap tidak gesit nantinya jika sering-sering diingatkan akan tugasnya. Setidaknya harus bisa memberikan jawaban pasti.

“Mbak sudah sampai mana tugas yang tadi.” Lalu dijawab, “ini Pak, sudah sekitar 60%. Saya kurangnya disini dan disini.” Nah, manager, bos, atasan Anda jelas lebih menyukai hal itu. Bisa memberikan masukan, kritik, saran atau bahkan bantuan. Kalau pekerjaan sendiri tidak bisa ditakar sudah sampai mana, lalu bagaimana bisa gesit di tempat kerja?

Jangan Takut Berpendapat Saat Status Quo

Status Quo ini terjadi saat Anda berada dalam situasi evaluasi, meeting dimana atasan anda sedang menjelaskan, lalu tiba-tiba meminta solusi saat itu juga. Karyawan pemula biasanya menghindari jawaban dan memilih diam. Belum lagi ternyata jika diikutkan dalam rapat penting dan hanya menjadi pendengar. Para senior tidak menyukai hal ini. Karena mereka menganggap kalau Anda tidak ingin berkontribusi, tidak ingin ikut bertanggung jawab, dan terkesan lari.

Bahkan Anda juga boleh kok untuk mengajukan pendapat jika tugas Anda itu terkesan diberikan tidak efisien dan tidak efektif.

“Pak, bagaimana kalau tugas saya harusnya seperti ini dan ini. Karena kemarin saya sudah melakukannya ada tidak efektif dan tidak efisien bagian ini dan ini.” Kalaupun tidak diterima pendapat Anda, jelas Anda berusaha memperbaiki keadaan yang sudah ada. Masalah apakah bos Anda, manajer, atasan Anda tidak siap atau mengacuhkan ide cemerlang Anda, itu tidak perlu dimasukkan ke hati.

Tantang terus diri Anda untuk bisa berkontribusi dimulai dari berpendapat dalam status quo di perusahaan tempat Anda bekerja. Jangan cuma diam saja. Ini bukan sekolahan yang mana bos atau manajer Anda juga bukan seorang guru. Partner kerja, tim kerja butuh ide segar dan tindakan nyata dari Anda.

Atur Deadlinemu Sendiri

Saya sudah membahas masalah efektif dan efisien di tempat kerja di artikel sebelumnya. Mengatur deadline sendiri adalah salah satu cara untuk menantang diri agar kedua hal tersebut bisa tercapai. Ini bisa dikaitkan pada tips nomer satu diatas ya.

Kenyataannya di tempat kerja, Anda mau di kantor atau di lapangan, selalu saja ada hal yang bisa mengganggu Anda dalam bekerja. Walaupun gangguan itu tidak begitu berarti, tapi jika terlalu sering membuat Anda kehilangan fokus. Misalnya mengobrol, bergosip, terlalu sering mengambil istirahat, dan hal lain sebagainya.

Atur deadline yang tidak terkait langsung dengan deadline yang diberikan atasan. Ini cukup penting karena dengan begitu, Anda bisa mengukur kemampuan diri. Kerja tim pun dituntut dari kemampuan Anda mengatur deadline dan membagi tugas atau meminta tolong rekan kerja lainnya membantu Anda. Tentu Anda membantu mereka juga setelahnya. Ini juga bisa melatih kerja sama dan kekompakan di tempat kerja.

Anda Bukan Seniman, Tidak Perlu Perfeksionis

Tips berikutnya adalah ini, tidak perlu menjadi sempurna. Penyakit karyawan baru adalah takut salah. Dengan cara mengerjakan satu tugas sesempurna mungkin. Jadinya malah kacau. Karena hampir dipastikan tidak ada pekerjaan mendekati sempurna. Bahkan 90% saja sudah sangat bagus. Menuntut 100% berarti Anda tidak efisien. Berujung pada Anda akan dianggap tidak luwes, tidak fleksibel dan kaku.

Bos Anda ingin sesegera mungkin mendapatkan laporan. Bahkan dalam sehari Bos bisa bertanya setidaknya satu dua kali tentang proses apakah Anda sudah menyelesaikan tugas atau belum. Ingat, Bos juga tidak sempurna. Pemberian tugas pada Anda hanya dia kira-kira saja. Kecuali Anda berada di pabrik dan perusahaan yang sudah terukur KPInya. Jika belum, Bos hanya mengira-ngira saat memberikan tugas.

“Mas, sudah selesai 10 tugas tadi?” Lalu saya jawab, “belum Pak, tapi sudah ada 4. Mau dipakai dulu atau saya lanjutkan dulu?” Ini lebih baik. Karena nanti Bos akan menjawab, “ya sudah lanjutkan dulu saja.” atau malah, “oke, 4 dulu itu aja cukup.”

Prinsip bekerja adalah efisien dan efektif. Harus terus dipegang. Kecuali memang perusahaanmu menuntut karya sebaik mungkin. Semisal untuk jualan kaos, desainer, nah itu lain cerita.

Gunakan Teknologi, Maka Belajar Lagi

Heran kalau ada yang melamar akuntansi di perusahaan tapi pakai exel saja masih kalah bagus dengan orang yang ada di bagian IT. Untuk itu, apa pun posisi pekerjaanmu, gunakanlah teknologi dengan maksimal. Baik dari smartphone, gunakan notepad, gunakan aplikasi yang bisa di download di google play store, atau pun gunakan yang sudah ada, basic seperti ms word dan exel tapi dalam tahap yang lebih rumit.

Sudah ada bukunya dijual bebas di gramedia, menggunakan seperti SPSS dengan mahir, exel dengan mahir, beli, pelajari, manfaatkan. Jujur, tidak banyak perusahaan yang akan memberikan kesempatan ini. Jadi mau tidak mau Anda harus menyisihkan uang gaji bulanan untuk terus belajar software yang sering di pakai di perusahaan Anda. Baik berupa buku, beli ebook atau beli tutorial atau apa pun itu.

Jangan cuma digunakan sebatas cari hiburan, nonton youtube yang gak penting, atau malah baca berita seharian, gunakan teknologimu dengan bijak agar bisa meningkatkan kualitas dari pekerjaanmu.

Semoga bermanfaat ya, 5 kesalahan pemula memulai pekerjaan ini bisa segera kamu hindari.

Photo by Annie Spratt on Unsplash

(Visited 56 times, 1 visits today)

Apa Komentarmu?